Showing posts with label Fiction. Show all posts
Showing posts with label Fiction. Show all posts

Sunday, 8 November 2020

KESEMPATAN TERAKHIR

Selalu saja, di setiap masa.. ada seseorang yang ketika dia pergi, dia juga membawa sepotong hati..

Apa kabar, Boi? Rasanya sudah lama sekali tidak mengiriminya pesan - pesan seperti itu. Mungkin dia sibuk. Mungkin pesan-pesanku nanti akan mengganggu kegiatannya. Mungkin dia akan merasa tak enak jika pesanku diterima tapi tak sempat dibalas. Dan ribuan mungkin lainnya menari-nari di anganku, hingga akhirnya aku mengalah dengan rasa ingin menyapa. Padahal dulunya dia adalah salah satu nama yang setiap weekend bertengger paling atas di list chatboxku. Salah seorang yang sering kuajak ngobrol hal-hal yang penting dan tak penting.

Tiga tahun yang unik penuh cerita terlewati dengan sukses. Lalu kuikhlaskan semua cerita itu berlalu. Kubiarkan mereka terbebas dari aku yang sudah menganggap diri sebagai ibu. Jika kuizinkan kau mengikuti kisah kami, tentunya kau akan tau bahwa tak mudah bagiku ketika lambat laun mereka tak lagi mengirimiku ucapan selamat hari raya, selamat hari guru, selamat ini, selamat itu. Benar-benar tak mudah. Apalagi jika ini berhubungan dengan si Boi, sesorang yang tak pernah menggoreskan luka apapun di hatiku, atau mungkin belum.

Setelah dia pergi, akupun menyimpan harap bahwa akan ada suatu saat dimana kami akan bersama-sama lagi sesering-seringnya. Mungkin seminggu sekali, atau sebulan sekali. Yang penting dia disini, di kota ini, tempat cerita indah dan luka bercampur menjadi sebuah kekuatan yang menghantarkan aku dan mereka ke mimpi-mimpi besar kami.

“Berapa lama kuliahnya?” tanyaku ketika dulu dia menelpon memberi tahu kalau tempat tujunya jauh disana, di pulau Jawa.

“4 tahun, Miss. Sama seperti S1 biasa.”

Baiklah, rasanya aku akan oke-oke saja untuk 4 tahun itu, “Tapi berjanjilah, jika pulang, kau akan mengabariku.”

“Tentu saja.” Janjinya

Dan kurasa, benar saja. Setiap kali pulang ke kota ini, aku entah bagaimana caranya, akan selalu tau bahwa dia berada disini. Di radius beberapa kilometer saja dari tempatku.

Sekali dalam 4 tahun itu, kami pernah hangout bareng bersama kawan-kawannya dan aku merasa sangat bahagia.

Kali kedua, tanpa sengaja aku bertemu dengannya di sekolah tanpa terencana. Seharusnya saat itu dia sedang berada di pulau Jawa dan aku di Malaysia, tapi ternyata dalam catatan takdir, aku diizinkan bertemu dengannya meskipun tak tererncana.

Di lain waktu, ketika ia pulang, aku menyanggupi untuk datang di acara pesta keluarganya, meskipun sedikit terlambat, tapi demi berjumpa aku berhadir kesana.

Lain waktu setelahnya, dia menyempatkan diri untuk singgah ke rumah di tengah jadwal yang padat hanya demi menghargai hatiku yang ia panggil, guru.

Dan yang terakhir, sebulan yang lalu.. Entah bagaimana Allah mengaturnya. Ketika tak sengaja tasku tertinggal di rumah seorang kawan dan aku harus buru-buru pulang, sementara ada seorang kawan lain yang harus kuantar ke sekolah. Sempat tebersit, alamat apa ini? Aku tak suka planning yang tak berjalan lancar.

Namun… di gerbang sekolah, aku melihatnya bersama seorang gadis, “O MY GOD ! Mimpi apa semalam bisa jumpa gini gak janjian. Bla bla bla.”

Belum sempat dia menjawab, aku menyambung lagi, “pacarmu ya Boi?” Sambil melihat ke arah si gadis cantik yang canggung karena kuperhatikan lama.

Baru kali ini dalam 4 tahun aku bisa mengganggunya dengan pertanyaan itu, padahal adalah kesempatan terbaikku ketika suatu saat, hanya satu kali dalam 4 tahun, dia menelponku untuk bertanya tentang novel yang cocok sebagai hadiah untuk seorang gadis. Sangkaku itu pasti untuk gadis pujaannya, tapi dia mengelak seperti biasa, “untuk adiknya kawan, Miss.” jawabnya saat itu.

Persis seperti hari ini, masih dengan jawaban yang sama, “Bukan Miss…." Bahkan setelah 4 tahun yang kurasa panjang itu, tak ada yang berubah. Tidak sedikitpun. Semuanya masih sama. Bahkan cara orang memandang kamipun masih sama, jealous. :D

Well, aku sangat berharap bahwa setelah hari itu akan ada farewell party karena dia akan segera kembali ke sekolahnya. Aku tak bertanya, hanya menunggu. Mungkin hari raya masih bisa berjumpa. Pasti banyak sekali agenda yang harus dibuatnya di kota ini, aku tak ingin mengganggu.

Hingga beberapa hari raya terlewat tanpa kabar, akhirnya aku mencoba menghubungi.. Tapi, wait! Kenapa tak ada satupun kontak namanya di list Hp-ku. Akhirnya karena khawatir dengan kesempatan terakhir, aku mulai menghubungi kawan-kawannya untuk bertanya, “si Boi sudah balik ya?” Tak ada yang tau.

Setelah mendapatkan nomor Handphonenya dari seseorang, aku langsung menekan tombol dial, bahkan sebelum aku menyimpannya. Ini telpon kedua selama 4 tahun kurasa. Meskipun yang pertama, Hp-nya dioper-oper ke seluruh asrama. Sedang nginap di Jogja katanya bersama kawan-kawan yang juga siswaku.

"Ini siapa?” Jawab suara di ujung sana. Diapun tak punya nomorku. Device kami sepertinya sudah seribu kali berganti sejak 4 tahun terakhir dan aku tak merasa akan perlu menghubungi dan dihubungi sesorang.

“Sudah balik ya?” Aku balik bertanya.

Dan benar saja, ternyata kesempatan terakhir itu tak pernah ada. Tapi bukan aku namanya jika tak masih berharap dia akan pulang lagi setelah training sebulan itu. Paling tidak, dia ditempatkan di Sumatera, tak begitu jauh dari kota ini. aku masih sangat sangat berharap bahwa masih ada kesempatan lain selain pertemuan yang 4 kali dalam 4 tahun. Aku tak mau penantian ini diakhiri dengan pertemuan express 4 menit di sekolah bulan lalu.

Sebulan berlalu aku tiba-tiba perlu sekali menanyai sesuatu kepada seorang alumni. Kucari-cari semua nama yang pernah mengirimiku pesan via WhatsApp, tapi satupun tak ada. Mungkin aku tak pernah menyimpannya. Tak banyak lagi nama yang penting belakangan ini. Karena terlalu menganggap orang penting ternyata terkadang meninggalkan jejak duka. Sampai akhirnya kutemukan namanya, Za. Tanpa melihat waktu, langsung ba bi bu.. Tak ingat kami berada di zona waktu yang satu jam berbeda.

Setelah beberapa baris baru tersadar sudah pukul 22.00 lewat, tapi ternyata masih aktif WhatsAppnya. Isi pembicaraan itu tak lagi penting ketika tiba-tiba ia berkata, “Miss, saya sudah dibacain penempatan.”

“Dimana?” tanyaku sedikit khawatir.

“Di Papua.” Ujarnya.

Ya Allah, Ya Allah. Apa mungkin selama ini aku terlalu khawatir bahwa ini akan terjadi? Bahwa ternyata 4 tahun bukanlah akhir dari perpisahan ini. Masih ada 9 tahun menanti. Dan aku tak berani berpikir tentang apa saja yang akan terjadi dalam 9 tahun itu. Mungkin dia menikah, sudah menjadi ayah atau sudah menjadi komandan atau pembesar di sebuah instalasi pemerintah. Yang jelas 9 tahun itu sudah pasti merubah segalanya dan mengubahnya menjadi seseorang yang lain, bukan lagi si Boi kecil kesayanganku.  

 

Banda Aceh, 2/10/2020

 

 

Wednesday, 8 April 2020

GANTENG



“Ada cowok ganteeeeeeeeeeeng. Mati ana.”
Seorang kawan tergopoh-gopoh lari sambil berteriak-teriak seperti sedang dikejar maling. Tapi isi teriakannya sungguh syahdu mendayu sehingga membuat semua penghuni asrama putri bagian belakang berhamburan keluar mendekati sang pembawa kabar gembira.
“Tarik meja! Angkat kursi! Cepaaaaaaaaaaat!” Dengan napas yang masih ngos-ngosan, pembawa kabar memberi aba-aba kepada anggota kamar 9 untuk mengeluarkan satu-satunya meja multifungsi yang berada dalam kamar tersebut.
Meja dan kursipun didorong mendekati tembok setinggi dua setengah meter yang menjadi pembatas blok putra dan putri.
“Pegang, pegang! Ana duluan. Nanti gantian.” Ucap Ami, si pembawa kabar dengan terburu-buru sembari menaiki meja beralas kertas kado bergambar teddy bear yang sudah berada tepat di seberang tembok pembatas berwarna putih buram yang terkelupas di sana sini termakan waktu.
“Ya Allah, jamil jiddan (ganteng banget). Mati ana.” Ami terus berceracau mengulang kata-kata yang sama sehingga membuat kami, yang sedang menunggu giliran untuk melihat santri baru yang sedang diantar Ustadz menuju blok putra, menjadi sangat penasaran.
“Khalash, inzily! (Udah, turun!) Baddil, baddil. (Tukaran, tukaran.)” Bahasa Arab broken terdengar dari mulut seorang pengantri yang juga terlihat sudah tidak sabaran.
“Ain? Ainalladzi jamiil?(Yang mana yang ganteng?). Ada tiga orang tu.” Seorang santriwati lain bertanya dari atas kursi yang sedang dinaikinya.
“Athwal, athwal.” Jawaban dari Ami, si gadis pembawa kabar tadi, menerangkan bahwa si ganteng adalah yang paling tinggi diantara ke tiga murid baru.
“Udah, turun, turun, kak Sumi juga mau lihat.” Antrian panjang kami yang sedang penasaran tiba-tiba dipotong oleh kakak dapur kami yang paling baik budi, yang suka menambah jatah ikan jika rayuan kami mempan, tanpa sepengetahuan ibu dapur tentunya.
“Kalau gak turun, kak Sumi laporin ustadz.” Ancamnya sambil menarik-narik rok biru berbunga-bunga kecil yang dipakai kawanku yang sedang mengintip dari balik tembok panjang.
“Ihhh, kak Sumi ni.” Dania buru-buru turun sambil menggerutu mendengar ancaman tersebut.

“Aduuuh, udah hampir masuk ke blok putra, enggak nampak lagi.” Intonasi suara kak Sumi terdengar kecewa.
Namun kekecewaan yang terbesar adalah milik kami yang telah rela mengangkat meja dan kursi, rela mengantri lama, tapi tidak mendapatkan apa-apa. Gara-gara kak Sumi datang, harapan kami melihat cowok-cowok ganteng tersebut pupus sudah.
“Labaksa, ghadan faqadh fil fashl. (Enggak apa-apa, besok saja di kelas),” ucapku menghibur wajah-wajah kami yang kecewa.
Keesokan paginya aku benar-benar terpana ketika bertemu dengan cowok perawakan indo dan sangat mirip dengan Stuart Collin yang telah menjadi gosip paling hangat di asrama putri Nyawong School malam itu. Aku terpana bukan karena kegantengan cowok yang sepanjang malam dielu-elukan oleh kawan-kawan yang sempat mengintip. Namun, terlebih karena cowok itu adalah salah seorang kawanku saat di Madrasah Tsanawiyah dulu. Begitupun kedua santriwan lainnya yang baru masuk hari ini.
Sudah hampir dua tahun aku tidak bertemu mereka karena di penghujung kelas VIII, aku pindah dari Sekolah Tahfiz Qur’an karena tak kuasa menjalankan program di salah satu sekolah Tsanawiyah terfavorit di daerah Aceh tersebut.
Aku heran kenapa kawan-kawanku menganggap teman-teman dari Tsanawiyahku itu ganteng dan keren. Padahal aku telah lama mengenal mereka. Kenapa aku tak pernah tahu kalau mereka mempuyai aura yang mampu menghipnotis mata para gadis yang sedang duduk di kelas I Madrasah Aliyah Nyawong School. Mungkin aku sudah mulai harus berkaca mata. Mungkin. Namun, sejak saat itulah, aku baru dapat memahami sebuah ungkapan keseringan yang selalu keluar dari mulut kawan-kawanku, “Ganteng itu relatif.”



Thursday, 26 March 2020

WIMBELDON


Tell me how to win your heart

For I haven't got a clue
But let me start
by saying I love you

Menyambung masalah galau in the rain kemarin, Miss nak share cerita seru ni. Belakangan ini kan, asal ketemu miss, orang-orang pada nanyak : "kapan bisa curhat Miss?"

Saking banyaknya, Miss sampai bingung ngatur waktu. Secara waktu kita emang mepet banget. Palingan antara dhuhur sampai bel masuk siang (yang Miss jarang banget cepat sampai), atau antara ashar ampe bel masuk sore (yang cuman selang 15 minit) atau habis keluar sore (yang uda jam 6 dan miss uda buru-buru banget mau pulang). Jadi kapan dong  waktu curhatnya. Kasian Miss liat orang-orang pada galau, gak bisa fokus, dan tertahe-tahe macam ayam mau diqurban. Kasian, kasian, kasian..

Di sebalik mistery curhat dan waktu yang buru-buru itu, Miss jadi wondering something. "Kenapa ya tiba-tiba yang pingin curhat jadi rame gitu? Apa ini emang lagi musim jatuh cinta ya?" Mungkin waktunya klop karena lagi musim hujan, jadi suasananya sendu-sendu gitu. Cocoklah buat jatuh cinta..Tapi mungkin juga bukan karena hujan. There are the other things perhaps..

·         Bisa jadi dulu mereka terlalu sibuk, sampai-sampai jatuh cinta aja gak sempat.
·         Munkun juga mereka sudah terlalu jenuh belajar, sehingga perlu refreshing dengan jatuh cinta.
·         Atau mereka sudah terlalu lama bersama, terperangkap di tempat yang sama, jadi cinlok. Habisnya bingung mau dianggap jadi apa.
·         Kemungkinan lain mereka hanya ingin terlihat normal dan keren spt kawan-kawan lain yang punya cewek/cowok.
·         Or mungkinn karena mereka mulai sering ketemu orang asing di luar sana yang mengajari mereka macam-macam. (Carik gara-gara tu orang yaa..)
·         Atau bisa jadi waktunya emang uda tiba.. Sudah saatnya mereka jatuh cinta. Kan miss pernah bilang :

             SEMBILAN DARI SEPULUH REMAJA USIA SMA PERNAH JATUH CINTA, KARENA YANG SATU  LAGI, BOHONG :D

Terserahlah atas alasan apa mereka tiba-tiba jadi jatuh cinta jama'atan gitu.
Yang pasti, Miss tidak tenang liat mereka pada galau. Kan seharusnya mereka sekarang menyibukkan diri dengan belajar. Dengan persiapan ujian-ujian yang segera menjelang. Bukan malah digundahin sama perasaan aneh yang mereka sebut "fallen" itu.

Tapi walaupun sedikit gondok, bukan Miss Namanya kalau gak bisa dicurhatin. Jadilah jam-jam break yang sebentar itu menjadi waktu dan ajang curhat mereka rame-rame. Saking gak cukupnya waktu, ada yang nyambung sms dan telpon lagi malam-malam.

Lucu juga dengarin isi hati mereka ternyata. Lumayan buat refreshing.

A    : Si Y itu gimana Miss? Saya sukak sama dia, dari dulu..
Ms : Baek, apanya yg kamu suka??
A    : Matanya Miss.
Ms : Whaaatt? wkwkwk (alahai, hana gadhul bashar si gam nyoe)
A    : iya Miss, gayanya juga..
Ms : Hmm, Miss dengar-dengar lagi HTS-an sama kawan sekelasnya
A    : Siapa, Miss?
Ms : Rahasia.
A    : Ayolah, Miss
Ms : Gak..
A    : Saya cari tau ndiri lah.

B    : Saya suka sama si X Miss, tapi....
Ms : Tapi apa?
B    : Ada yang liat dia lunch ma kawan cowoknya di sebuah resto. Sakitnya tuh, disini Miss..
Ms : ahahaha, kasian, kasian, jadi gimana. uda nyerah?
B    : Gak Miss. Miss liat-liatlah, mungkin kemarin dia cuman khilaf.
Ms : Okay, tapi kalo uda jalan-jalan gitu, kayaknya emang gak bagus orangnya.
B    : Jadi gimana Miss. Bisa Miss nasehatin?
Ms : Bisa. Nasehatin gak jeje lagi sama kawan tu tapi bukan buat dia mau dekat dengan kamu.
B    : Iyaaa Miiis, udah tau..

C    : Miss, saya lagi semangat kali belajar, karena seseorang.
Ms : Hmm, why?
C    : Liat dia belajar jadi semangat juga.
Ms : Oh bagus tu, ambel sisi positifnya.
C    : Iya miss

D    : Miss, saya lagi galauin seseorang, apa dia tau saya galauin dia? Hmm
Ms : Emang buat apa dia tau??
D    : Biar saya gak cape galauin. Hehehe
Ms : Ada-ada aja.
D    : Saya bilang aja bole Miss?
Ms : Janganlah… Nantik dia terganggu gak?
D    : Gak tau. Tapi mungkin gak.
Ms : Mungkin iya, gimana?
D  : Ya uda, saya liat_liat dulu deh

E    : Ini masalah uda lama Miss, dari pertama kali ketemu sampe hari ini saya gak dianggap Miss. Cape Miss, saya cape.
Ms : Kajeut Piyoh (Stop it).
E    : Tapi saya suka, Gimana cara ni?
Ms : Kamu maunya apa?
E    : Dia anggap saya ada.
Ms : Oh gampang tu, biar miss bilang.
E    : Jangan, Miss.
Ms : Napa emang. Kan biar dia tau kamu tu ada, nyata, bukan hantu.
E    : Saya maunya, em apa yaa?
Ms : Aapaa?? Jangan macam-macam !

F     : Miss, saya uda gak suka lagi sama yang dulu, sekarang uda ada yang baru.
Ms : Apa miss bilang? Kan itu cuman bentar, hanya sementara. Nantik uda nampak lagi yang lain.
F    : Gak Miss, kayaknya yang ini lama.
Ms : Mana ada.. ntar lagi uda lain lagi.
F    : Betulan yang ini, Miss
Ms : Udalah, Miss gak pecaya.

G   : Miss, saya terganggu sekali digosipin sama seseorang, jadi gak tenang saya. Tega banget orang ganggu ketenangan saya. Padahal saya gak pernah gangu orang.
Ms : Nah loh.. digosipin aja susah..
G    : Karena saya gak mau, saya gak suka..
Ms : Oohh. Biar Miss bilang sama orangtu nantik yaa.

Dll, dll… Capek miss ngutip percakapannya.

Hmm, Miss ada, Miss dengarin, Miss bantuin, Miss tenangin, tapi bukan nolongin mereka biar bisa 'jadi' dengan si doi. Sori-sori aja, dan mereka tau itu dengan sangat jelas. Karena mereka cuman butuh didengerin, jadi miss dengar. Miss gak komen pun gak papa. Secara ya, organg lagi jatuh cinta itu suka nyebut-nyebut nama orang yang dijatuhi cinta. Jadi bercerita tentang dia saja (padahal cerita ditolak) uda senang, uda cukup. Jadi miss dengarin :) :)

Cuman ada satu hal yang membuat Miss tak tenang. Nampaknya banyak yang pingin ngasi tau ke target bahwa "I’m in love with You."

Ada tipe orang kalau jatuh cinta jadi berbunga-bunga, bersemangat dan merasa lebih hidup.
Tapi ada sebagian lain yang ketika menyuka dan disuka jadi susah, jadi sering bete, gak bebas, gak tau harus gimana, gak fokus, dll. Jadi kita harus menghargai kalau ternyata gak semua orang itu punya hati seperti yang kita punya.

Kalau gak salah, Miss pernah cerita sebuah movie berjudul "Wimbledon.a"

Ada seorng petenis hebat (sebut saja namanya Y), jatuh cinta dengan putri pelatihnya yang juga pemain tenis (X).

Si Y, selalu semangat bila bisa bertemu dengan orang yang dicintainya. Dia yakin bisa memenangkan semua pertandingan bila mendapat dukungan dari gadisnya. Namun si X ternyata tak bisa bertemu selalu dengan cowoknya, apalagi bila sudah dekat dengan pertandingan. Dia jadi kacau.

Suatu saat, mereka dihadapkan pada sebuah pertandingan hebat. Kedua mereka adalah andalan negaranya.

Setelah latihan berminggu-minggu dan mereka akan segera bertanding. Si Y merasa perlu bertemu dengan si X untuk (sori) refill semangatnya sebelum bertanding. Sementara si X berusaha keras untuk tidak bertemu dengan cowoknya karena dia tau, konsentrasinya akan buyar bila bertemu dengan pujaan hati.

Begitulah dua sifat itu kemudian terpaksa harus mengorbankan salah satu. Si cowok yang ngotot memaksa bertemu dg si X dan berhasil membuat si X benar-benar kacau sebelum pertandingan terpenting dalam hidupnya tersebut. Dan semua orang bisa menebak, si cewek akhirnya jatuh kalah di menit-menit awal. Sementara si cowok berhasil menang hingga akhir pertandingan.

Bagitu hancurnya hati pelatih yang juga ayah kandung si cewek karena telah melatih putrinya dari kanak-kanak untuk bisa membanggakannya di pertandingan "Wimbledon" kelak. Tapi apa yang dia dapat?? Ternyata orang kepercayaan yang paling ia percaya justru menghancurkannya.

Oleh itu, Neuk,, bersabarlah. Kalau kalian benar sayang atau paling enggak kasihan sama mereka. Tolong, jangan ganggu mereka. Mereka (mungkin) belum siap.



ZII

Dahulu kala seorang dara jelita tlah Allah pertemukan dg saya melalui cara yg agak sedikit berbeda. sedikit tak lazim. Kata kwn2nya, dia baik bgt, tapi ada satu hal yg membuat mrk sangat khawatir terhadapnya.oleh itu, mrk mengutus saya utk berbicara dgnya baik-baik. Tp bincang2 itu tak mendtgkan hasil malah berujung tragedi yg mgkn meninggalkan sedikit luka. dia tersinggung ketika wali klsnya menyebut ttg masalah yg menurut sy dan teman2nya hrs diselesaikan.

Maka kesal itu berubah menjadi beberapa sms yg kemudian msk ke inbok saya. sedih bukan kepalang krn seorg yg tak begitu kita kenal mengaku terluka krn mslhnya diketahui org. Astaghfirullah.
karena sy blm terlalu mengenalnya lalu saya hny membalas, "tgs saya mengingatkan. terserah didengar atau tidak. toh kamu juga bkn siapa2, sy baru saja kenal." Dan sms dg nada kejam itu saya tutup dg emo :"( ini.

Knapa saya bls sekejam itu, krn smsnya lumayan memancing emosi saya.

Emo :"( ini ternyata kmudian menghadirkan blsan darinya.
"Miss jgn sedih, sy janji berubah".

Dan saya ingat sekali saya menagis sesegukan dirmh membaca sms itu. padahal sy br mengenalnya beberapa bulan.

Berbulan setelah itu saya ternyata msh mendapat tgs utk memanggil dan menasehatinya. kwn2nya plus kwn saya menyerahkan mslh ini ke saya. "tlg nasehati dia, kmi uda gka tau lagi cara."

Sayapun kembali memanggilnya.

"Tolong neuk, tlg.. jgn terlibat dlm mslh ini. jangan. kamu anak baik, smart, smua org sayang melihat kamu ada diposisi ini. tlglah neuk. tlg."

Belum habis nasehat saya dia dg nada kesel bercampur sedih membantah dan pergi.

Lalu apa lain yg bs saya buat selain berdoa utknya. krn dia anak baik. dia hanya terpengaruh pergaulan.

Selain berdoa sendiri sy jg blg ke kwn2nya, tolong doain dia.

Dan ternyata doa kami alhamdulillah membawa hasil.
dia berubah dan rajin beribadah. tp lagi2 timbul mslh baru, sepertinya hal2 yg dia lakukan selalu saja memancing perhatian orang. Hingga akhirnya dia jatuh ke tangan saya :D saya jd ibunya di sekolah.. 

Saya tdk bs membayangkan bagaimana semua mslh yg kmi lalui dulu bs dia lupakan semuanya. Dia berubah. benar2 berubah. menjadi sangat manis.. sangat baik, dan ahh sangat meutuah. setiap berjumpa saya dia selalu memeluk. setiap sms ditutupnya dg 'sayang miss, ({})".

Betapa Allah Maha membolak balikan hati. Sekarang dia jadi salah seorang anak kesayangan sy. dan Allah jg tak henti2 menganugrahinya dg prestasi2 n nilai2 yg semakin hari smakin membaik. dia berhasil membuat saya terpana.

Suatu malam, skolah mengharuskan semua guru utk ikut sebuah acara di sebuah stadion bola. saya kebingungan harus minta jemput siapa. lalu saya tkanlah no.nya.
"Bersediakah engkau menjemputku?"

Tak perlu menunggu lama. "tentu bersedia, miss"

Dan malam itu kami pergi bersama, menunggu org2 lain dtg berdua, becerita byk hal, berdzikir dan berdoa sama2, di tempat yg sama, waktu yg sama, di bawah langit yang sama, menangis sama2.

Bayangkan sebuah kenangan yg lebih indah dari itu.. baru dg nya saya bs kluar malam dan pulang larut sangat larut setelah melantunkan berbait2 doa.

Di perjalanan pulang mendekati jam 00.00. Saya duduk di blakang keretanya, hanya berdua mengendarai malam. dia berkata, "gak nyangkaa ya miss, kita bisa pigi berdua tengah2 malam kek gini."

Dan haru itu hanya disaksikan pekat dan angin yg menderu yang mengibas2kan mukenanya ke arah saya. Alhamdulillah, batin saya. Semoga Allah menjagamu, shalihah.

Tiba di rmh dia menunggu, abunya anak2 membuka pintu. dia tak beranjak sampai pintu terbuka. Diaa, begitu setia.

Selesai berganti pakaian, saya mendapat tlp darinya. Sangka saya pasti mau ngabari uda di rumah. Tapi ternyata lebih dari itu.

"Happy bersdeeeeee miiiiiiss. smoga bla bla bla... Saya yang pertamakaaan??? "

Masya Allah dan haru itu tumpah ruah sekali lagi.. Mengingat tangisan saya pertama karena kenakalannya, dan tangisan2 selanjutnya hanyalah karena kebaikan2 dan ketulusan hatinya.

Ya Allaaah tlg jagalah dara cantikku, selamanya.. :") Aaamiin

CINTA 7 GENERASI

Usia kerjaku yang telah melewati angka 7 tahun, membuatku berhasil menemukan berbagai macam kejadian unik ketika anak-anak didikku sedang jatuh cinta.

Ketika pertama kali masuk ke instansi ini, aku bertemu dgn seorg gadis belia yang cantik, pintar,dan tampak sangat shalihah dgn jilbabnya yang menjuntai indah. Dia tak suka bergosip dan selalu tampak tersenyum kepada semua orang.

Sebagai orang baru di tempat itu, aku menyukainya karena keramahannya.

Namun ada satu hal yang aneh mengenai si gadis ini yang berhasil tertangkap oleh kamera mataku. Setiap kali kawan-kawannya mulai bertanya tentang hal-hal yang berhubungan dengan asmara muda mudi, dia selalu tampak gelisah.. Dan kegelisahan yang tak kutau alasannya itu, akhirnya terbongkar di suatu siang Jum’at, tatkala kami mengadakan sebuah  halaqah bertemakan.. “Pacaran dalam Pandangan Islam”.

Aku melihat gadis itu, duduk di barisan paling belakang dan berusaha untuk mengobrol terus sepanjang halaqah..

Dia kelihatan sangat TIDAk tertarik dengan bahasan yang sedang disampaikan oleh seorang ukhti muda di depan sana. Sementara kawan yang diajaknya ngobrol tampak sangat terganggu dengan sikapnya tersebut. Hingga kemudian aku memustuskan untuk duduk di sampingnya sepanjang halaqah berlangsung..

Ketika halaqah usai, aku mencoba mencari jawaban atas rasa penasaranku dengan kelakuannya. Kawannya menjawab… “Dia pacaran dengan si Fulan, Bu. Mungkin dia malu dengar halaqah tentang  masalah itu.”

Ups… aku sempat terkejut sejenak sebelum berhasil me-loading sepenuhnya jawaban dari muridku tadi. Namun nama seorang siswa yang menjadi objek dalam kalimat yang diucap muridku itu, memberikan satu clue tersendiri buatku.. Siswa yg sedang menjalin hubungan dengannya ternyata adalah cowok yang paling ganteng di daratan Harum School,sekolah kami, pada saat itu. Itu bukan penilaian subjektif dariku saja, beberapa orang kawan sesama guru sempat menyebutnya dgn gelar ‘si ganteng’ bila sedang membicarakannya. Mungkin itu alasannya kenapa si gadis baik hati ingin tetap mempertahankan hubungan yang kini mulai ia rasa sebagai sesuatu yang tak baik itu. Berstatus cewek bagi cowok terkeren di sebuah lingkungan adalah sebuah pencapaian, Kawan..

Cerita lain adalah ketika seorang remaja tanggung yang kerap berdebat denganku di kelas gara-gara masalah sepele, tiba-tiba menjadi audience favorit tentang pertanyaan- pertanyaan berbau religius yang ditanyakan kawan-kawannya kepadaku.

Dan tak berapa lama setelah itu, dia berubah menjadi seorang pemuda yang berbeda. Ia mulai tampak sangat mencintai islam dan segala macam aturan-aturan yang digariskn oleh agama ini.  Ketika itu, iapun dinobatkan menjadi ketua Bidang Budi Pekerti di Osis.

Demi tugas mulia yang sedang diembannya, dia semakin berusaha untuk menjadi contoh dan teladan untuk kawan-kawannya.. Diapun rela memutuskan hubungan ‘cinta gorilla’nya dengan seorg gadis menawan yang menjadi anggota paskibraka Kota Madya saat itu.

Dan cewek itupun datang menemuiku sambil menangis.. Ia berkata telah ikhlas kalau memang ini yang terbaik untuk si anak muda yang belakangan selalu ada untuknya. Dan akupun menyampaikan apa yang kudengar dari sang ketua Bidang Budi Pekerti yang telah membuat si dara bermata indah itu patah hati.

“Katanya dia pingin jaga kamu, biar gak berdosa gara-gara dia, bukan dia gak suka lagi. Dia menyayangimu dengan cara lain, cara yang seharusnya dilakukan oleh seseorang yang benar-benar menyayangi seorang lain.. Menjaga hatinya tetap suci, tak tertoreh dengan dosa.”

Kata-kata itu memang kukutip habis dari si Agam yang mendadak bijak dan kini telah memutuskan untuk tidak pacaran lagi.

“Saya ngerti, Buk. Mungkin beginilah yang seharusnya.. Saya ikhlas, Buk..”

Itulah akhir pembicaraanku dengan gadis mantan si ketua sekbud itu. Dan setelah itu dia tak pernah lagi menyapaku apalagi datang untuk mengobrol denganku…

Tilik punya tilik ternyata si dara sekarang sudah mempunyai gebetan baru yang lebih ganteng dari anakku, si ketua sekbud.. :”(

Terserahlah, kami telah berusaha menjaganya.. Tapi kami bukan siapa-siapa.. Dia berhak memutuskan jalan hidupnya..

Selanjutnya hari-hari si gadis cantik sering di habiskannya di ”Taman Sari”, istilah utk sebuah ruang kelas yang sering dipakai para siswa siswi yang sedang kasmaran utuk saling bertukar cerita pada saat istirahat..

Perihal taman sari yang baru dibuka itu,sering kudangar diucapkan oleh beberapa orang siswa-siswaku yang iseng, namun dibalik keisengan itu ternyata mereka menyimpan rasa kasihan ketika  mereka terpaksa membiarkan kawan-kawannya berasik-asik mengobrol berpasan-pasangan, walaupun hanya 20 menit, tanpa bisa berbuat apa-apa.. Keisengan itu kemudian mereka tularkan kpadaku dengan sebuah promosi tentang taman sari yang selalu mereka ulang-ulang ketika berjumpa denganku.

“Ibuk, kalau lagi suntok, maen-maen yaa ke taman sari. Baru bukak.. Seru lho..“ Kemudian mereka saling menatap dan tersenyum cengingisan..

Atau..

“Yok Bu… Main ke taman sari. Mumpung lagi ramee.”

Atau..

“Uda pigi, Buk, ke tempat rekreasi baru di sana.. (sambil menunjuk ke sebuah ruangan kls). Banyak lho pengunjungnya.”

Atau..

“Jadi Bu, ke taman sari…?”

Promosi-promosi aneh yng sering diulang-ulang itu membuatku akhirnya tergoda juga untuk mengunjungi “taman sari” yang belakangan mnjadi isu hangat di seantero sekolah.

Setibaku disana, aku hanya bisa tersenyum pias melihat beberapa pasangan muda mudi yang sedang mengobrol, sedang mengerjakan tugas berdua, atau hanya sedang tersenyum-senyum sambil menunduk malu-malu…

Mereka duduk berpasang-pasanganan di meja yang berbeda-beda…

‘Ohhh, ini tho yang namanya taman sari??’ Rutukku dalam hati.. Dan mulai hari itu, akupun ikut-ikutan menjadi pengunjung setia taman sari. Setiap waktu istirahat bila aku mendapat jadwal pagi, aku selalu menyempatkan diri ke sana untuk menebar senyum, mengucap salam atau hanya mendehem saja tanpa mengucapkan apa-apa..

Tak perlu lama aku berkunjung ke sana, setelah 3 hari, pengunjung taman sari mulai berkurang dan genap seminggu taman sari itu resmi ditutup.. Bukan ditutup dngan paksa tentunya. Siswa-siswiku berkata, “Sebuah senyuman saja sudah cukup untuk menutup taman sari.”

Di letting selanjutnya, tak terlalu banyak cerita yang kuingat…Namun ada satu yng sangat membekas di alam lawakku.. Hal  yang tak pernah terlupa ketika aku menemukan secarik diary yang dirobek paksa dan bertuliskan nama seorang siswa dari kelas Putra dan nampaknya sengaja ditinggalkan di atas meja oleh seseorang.. Setelah beberapa hari aku memerhatikan, aku mendapatkan bukti yang kuat bahwa tulisan itu adalah milik seorang siswiku yang sedang jatuh perasaannya kepada seorang siswa yang duduk di kelas sebelahnya..

Oya, cerita itu terjadi di masa syariat Islam baru diberlakukan di Aceh. Demam syariat Islam itu kemudian berefek pada kelas Putra Putri yang dipisah.. Putri dibagi menjadi dua kelas berpenghuni koloni mereka semua.

Sementara satu kelas lagi menjadi ruang yang dikuasai penuh oleh para siswa.. Sejujurnya adalah hal yang sangat tidak enak ketika seorng guru perempuan masuk ke kelas berisi sepenuhnya siswa, dan ketika seorang guru laki-laki masuk ke kelas berisi siswi seluruhnya. Hadir perasaan Ge-eR dalam hati kami mendapati kami adalah satu-satunya orang  yang paling cantik atau yang paling ganteng di kelas itu..

Namun dibalik rasa tidak enak yang sesekali membuat kami ingin membolos mengajar itu, terdapat banyak sekali pengalaman-pengalaman menarik yang ternyata hanya bisa kami peroleh di kelas-kelas yang berpenghuni bermerek sama :D

Contohnya di kelas diskusi,mereka bisa memilih topik-topik yang bebas dan terkadang mengandung SARA tanpa ada yang tersinggung dengan topik diskusi yang mereka pilih.

Selain itu mereka biasa meminta waktu 15 menit terakhir untuk bercerita apa saja tanpa harus malu kalau ketahuan sama kawan-kawan yang sedang mereka ceritakan.

Lainnya lagi mereka bisa saling membagi tips-tips yang sesuai dengam keinginan mereka ketika pembelajaran tentang short-fungsional teks berlangsung. Diantara tips-tips yang menarik yang masih 
kuingat sekarang adalah : tips cara membully kawan dengan baik dan benar (Kelas putra); tips jumping sepeda motor (kelas putra); dan tips jitu menolak rayuan maut (kelas putri).

Dan yang lebih asik lagi di kelas yang berpenghuni sama itu, siswa dan siswi bebas berekspresi.. Ketika mereka bosan di penghujung jam pelajaran mereka akan meminta dengan suka rela untuk membuat sebuah persembahan di depan kelas.. Dan sebuah persembahan yang dilakukan oleh siswaku -yang namanya pernah kudapat tertulis dia atas secarik diary berwarna biru laut dulu, plus curhatan-curhatan kecil dari si pemilik diary- berhasil menjawab dengan sukses bahwa dia tidak menyukai si siswi yang kini mulai terang-terangan menyukainya. Dan ternyata si siswa tersebut malah menyukai kawan sebangku si empunya diary.. Mirisnya.

Jawaban itu tak sengaja kudapatkan ketika di suatu siang mendekati sore, siswaku yang sudah tau kalau dia sedang disukai oleh seorang gadis di kelas sebelah, meminta maju untuk menghibur kawan-kawannya yang sudah mulai terkantuk-kantuk menyongsong waktu ashar tiba, dengan mempersembahkan sebuah lagu yang berjudul ‘Soledad’,

Dan bait-bait lagu itupun mulai dialunkan dengan indah dengan nada rendah oleh si siswaku… Sampai ketika reff-nya tiba,si siswa tersebut menaikkan suaranya dengan sengaja agar terdengar ke kelas sebelahnya… Dan bait-bait dari reff tersebut terdengar agak sedikit berbeda dari biasanya…

SYARIFAH…..

It's a keeping for the lonely
Since the day that you were gone
Why did you leave me
SYARIFAH…
In my heart you were the only
And your memory lives on
Why did you leave me
SYARIFAH….

And you know what?? Syarifah itu adalah kawan sebangku gadis kecilku yang sedang jatuh cinta kepada si penyanyi dadakan  yang dengan isengnya sengaja mamakai suara allegro dan mengajak kawan-kawannya sekelas untuk sama-sama bernyanyi demi mengkompanyekan bahwa dia menyukai si “syarifah’ melalui lagu tersebut.

Dan kekonyolan itu berdampak tidak bagus atas hubungan gadis kecil itu dan kawan sebangkunya.. Seminggu kemudian aku melihat mereka telah resmi pisah bangku..

Beberapa saat setelah insiden pisah bangku tersebut mereka ujian dan naik kelas. Di kelas yang sekarang mereka telah digabungkan kembali karena beberapa ke-error-an sistem yang terjadi di sekolah hanya karena siswa dan siswi kelasnya dipisah. Dan cerita cinta triangle itu telah tersamar dengan sendirinya..

Hingga suatu siang ketika mereka telah duduk di semester II kelas XII. Aku melihat si gadis berdiary biru dangan si penyanyi lagu soledad sedang duduk lesehan berdua di atas lantai putih di depan sebuah ruang kelas. Mereka sedang belajar mandiri karena guru yang mengajar di kelas mereka berhalangan hadir. Aku tak begitu yakin apakah mereka sedang benar-benar belajar atau hanya mengobrol.. Namun satu hal yang yang benar-benar kuyakini bahwa mereka kini sudah ‘jadian’ setelah dua tahun setengah syaithan tak berhasil menghubungkan perasaan mereka… Namun di penghujung masa belajar mereka, akhirnya merekapun terpedaya.. Dan aku hanya bisa memasang aksi ‘no comment’ untuk kasus yang satu ini.

Cerita seru lainnya terjadi di letting selanjutnya yang hampir keseluruhan anggota lettingnya tampak lebih dewasa dan bijaksana tentang masalah ‘cinta gorilla’. Kebanyakan dari mereka tak tertarik untuk menampakkan hubungan mereka dengan kawan-kawan yang berbeda jenis. Pernah sekali ketika seorang siswi yang sangat pemalu kedapatan sedang mengobrol malu-malu dengan seorang siswa yang juga sangat pendiam, seluruh siswa di kelas si cewek bersekongkol untuk melaporka kejadian tersebut di dalam berita yang mereka bacakan di kelas news item.. Betapa tragisnya!! Namun dibalik ketragisan itu, hanya satu yang dapat kutangkap dari maksud mereka berbuat itu. Mereka sedang berusaha menjaganya dengan cara mereka sendiri..!! Aku sangat yakin akan hal tersebut.

Kemudian, tersebut juga di letting ini tentang kisah seorang siswaku yang lucu dan berbadan sangat besaar.. Sebut saja namanya Putra. Tingkah-tingkah konyolnya membuatnya disukai dan dekat dengan semua kawannya.. Dan syukurnya lagi, ketika kawan-kawannya sedang merasa suntok, mereka tinggal memegangi kedua tangannya dan mulai menggelitiki… Kemudian yang terjadi selanjutnya adalah suara tawanya yang terdengar sangat riuh diselingi dengan permohonan ampun yang terus menerus keluar dari mulutnya.

Adegan itu adalah sebuah persembahan yang sangat eklusif yang bisa kami dapatkan dengan cuma-cuma setelah kami kelelahan belajar di hari itu.

Sikap Putra yang konyol dan aneh ternyata tak bisa menghalanginya untuk jatuh cinta. Dan semenjak Putra menjatuhkan pilihannya kepada seorang gadis manis si anak paskib, dia tak pernah berhenti menggodanya, di setiap waktu dan setiap kesempatan… Pernah sekali ketika aku mengantarkan mereka ke sebuah acara di daerah Darussalam sana, Putra yang kebetulan ikut dalam bus yang sama dengan Nita, nama si gadis cantik itu, tak berhenti -henti mengoceh dan bernyanyi-nyanyi lagu cinta hingga membuat Nita sangat-sangat tidak nyaman..

Tiba di Darussalam,akupun memanggil Putra dan mengobrol dengannya tentang ulahnya di bus yang telah membuat hatiku dan hati Nita dan mungkin juga siswi-siswi lainnya, merasa geli..

Namun jawaban-jawaban yang diberikan Putra membuatku tak berdaya memarahinya.. Sikap ngelesnya berhasil membuatku berhenti menceramahinya.. Dia adalah manusia super unyuk yang pernah kutemui sepanjang perjalanan mengajarku yang sudah 7 tahun..

Kekalahanku hari itu tak membuatku patah semangat.. Aku mesih berusaha menasehatinya dengan cara-cara yang tentu saja disukainya... Namun kurasa usahaku itu tak banyak membuahkan hasil.. Satu-satunya yang berhasil membuatku membuang rasa kwatir itu adalah karena Nita sendiri tak pernah menaruh peduli dengan usaha-usaha Putra..

Nita dengan bantuan kawan-kawan ceweknya berhasil membuat dirinya tidak terganggu dengan ulah-ulah konyol Putra.. Hingga suatu saat, sebuah kejadian yang sangat menjengkelkan tapi juga mengesankan terjadi…

Hari itu adalah hari perpisahan sebuah letting di sekolah Harum School.. Seperti biasa, yang menjadi panitia kan adek letting siswa dan siswi kelas XI ditambah kelas X beberapa orang.

Ba’da dhuhur, usai semua acara formal yang sangat membosankan karena dipenuhi oleh seribu kata sambutan, tibalah waktunya untuk para siswa siswi untuk unjuk gigi-gigi kebolehan mereka.. Dan salah satu yang mengisi acara Jeddah itu adalah Putra yang siap bernyanyi dengan grup band andalan kelas XI pada saat itu.

Dan sebuah kehebohan luar biasa terjadi di saat Putra yang sedang bernyanyi di atas panggung perlahan-lahan mulai turun menyusuri anak-anak tangga dan mulai berjalan ke arah kursi para tetamu. Putra terus berjalan sambil membawa sekuntum bunya mawar plastik dan berhenti tepat di samping kursi tempat Nita duduk.. Aku sempat menangkap betapa terkejutnya Nita pada saat itu dan rasa malunya kepada seluruh tamu yang sedang berada di Taman Budaya itu, telah menyentak kakinya untuk segera bangun dan berlari membawanya menaiki anak-anak tangga melewati seluruh mata yang seluruhnya sedang tertumpu ke arahnya seorang..

Dia berlari dengan anggun sambil mengangkat sedikit gaunnya yang berwarna krem keemasan menuju ke pintu luar gedung itu.. Aku bisa merasakan betapa malunya Nita dengan ulah Putra tersebut, namun bagi para penonton, adegan tersebut adalah adegan yang paling heboh sepanjang perpisahan itu.. Dan bagiku sendiri, di tengah kejengkelanku kepada Putra yang sangkaku sudah putus urat malu itu, itu adalah pemandangan yang paling eklusif dan spektakuler sepanjang perjalanku menjadi guru.. Ya, dan hanya Putralah yang berhasil mengubah persepsi orang-orang bahwa kelakuannya itu adalah kelakuan seorang pemuda konyol yang pemberani.. Kalau orang lain yang melakukannya, mungkin dia telah digantung di tiang bendera oleh Pembina Osis di sekolah kami.

Setelah semua kekonyolan dan kenekatan yang dibuat Putra ternyata tak berhasil membuat Nita takluk… Di penghujung kelas XII, Putra-pun akhirnya menyerah juga. Alhamdulillah. Legaku untuk Nita.

Kisah-kisah setelah itu adalah kejadian yang biasa dan terus berulang seperti kejadian-kejadian di letting-letting awal. Ada yang sedih,ada yang lucu, ada yang menggembirakan, namun banyak juga yang  berhasil membuat hati pilu..Misalnya seperti ketika melihat beberapa siswa atau siswi yang begitu bijak dan luar biasa ketika di jenjang sekolah, namun ketika berada di luar sana dan mulai memasuki jenjang kuliahan, mereka mulai berubah.. Mereka mulai mencantumkan status in relation with (nama seorang yang special) di sebuah jejaring social bernama facebook, yang sepertinya status yang dimaksud Mark Zuckerberg tersebut adalah status untuk orang-orang yang telah menjalin hubungan serius..

Atau foto-foto berduaan yang di-upload dengan sengaja di akun jejaring sosial tersebut membuatku menjadi semakin yakin bahwa dunia di luar sana amatlah kejam untuk anak-anakku yang lugu.. Ingin rasanya ku-remove saja siswa-siswiku yang dengan sengaja pamer foto-foto mesra di facebook karena aku kini tak berdaya untuk melakukan apa-apa.. Bukankah selemah-lemah posisi keimanaan sesorang ketika dia melihat maksiat di depan matanya namun ia tak bisa berbuat apa-apa, hanya membenci saja di dalam hati..

Berdasarkan pertimbangan itu akhirnya dengan berat hati aku benar-benar me-remove sebagian dari mereka dan membiarkan sebagian yang lain untuk tetap kujadikan teman di jejaring sosial yang sedang sangat diminati pada saat itu..

Begitulah kiranya beberapa pengalaman yang masih tetap ada di dalam anganku semenjak aku mengajar selama 7 tahun.. Dan pengalaman-pengalaman itu akan terjadi lagi, selalu berulang, dan terus terjadi sepanjang waktu

Sunday, 22 March 2020

MINA

Aku telah jatuh hati kepada seorang gadis berusia 15 tahun sejak pertama kali melihatnya di ruangan Ospek.
Setelah masa orientasi sekolah usai, aku dengan terang-terangan menyapanya beberapa kali, sehingga membuatnya, sebagai anak baru, berani bertegur sapa denganku. Walhasih dia kemudian kunobatkan menjadi adik kesayangan di hadapan teman-temanku.

“Ini Mina, kawan-kawan. Jika kalian masih ingat ceritaku tentangnya.” Ujarku suatu siang  saat sedang duduk bersama Mina di kantin sekolah.

“Oh, ini ya orangnya yang membuat Qe* lebih suka nongkrong di kantin tanpa kami?” Ujar Leoni mencibir.

Jealous.” Aku mencoba membuat suasana lebih adem dengan candaan ringan.

Dan hubunganku dengan Mina semakin hari semakin dekat, seperti sepasang kekasih. Sayangnya aku adalah seorang perempuan, begitupun Mina. Dan kami juga sama-sama perempuan tulen, sehingga tidak mungkin bisa ditaklukkan oleh perempuan lainnya, hehe.

Tapi yang namanya “haters” akan selalu ada di muka bumi. Seperti saat itu, kebanyakan temanku mengejek bahwa aku telah membooking Mina untuk menjadi adik iparku. Kebetulan si ganteng Ahmad adik nomor duaku juga bersekolah di SMAN 19 Kota Banda  ini.

Aku tak begitu ingin menimpali ejekan-ejekan kawanku, tapi tetap berhati-hati tentang Mina dan Ahmad. Jangan sampai mereka benar-benar saling kenal dan jatuh hati. Tapi jumlah siswa kelas satu yang banyak dan jawaban Ahmad ketika kuinterogasi tentang Mina membuat rasa khawatirku lenyap. 

“Siapa Mina? Aku gak kenal.” Ujar Ahmad, si jagoan mamaku.

Beberapa bulan berlalu, seorang sahabat datang menghampiri dan bertanya macam-macam tentang Mina. Aku, mau tak mau, harus menaruh curiga akan sikapnya.

“Kenapa Qe, tanya-tanya Mina? Ucapku ketus, seperti seorang kekasih yang sedang cemburu.

Tanpa menjawab apapun, dia menyerahkan sepucuk surat beramplop biru ke tanganku.
Ragu-ragu aku membukanya, aku faham akan maksudnya, bahwa ini adalah sebuah surat penting dan dia ingin aku memeriksanya.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi pias di wajahku ketika menelusuri baris demi baris isi surat itu. Terlebih ketika menyadari bahwa Andre, sahabat karibku dari sejak kelas satu SMP, telah jatuh cinta kepada Mina.

“Tidak, jangan kepada Mina. Jatuh cintalah kepada gadis-gadis lain. Mina begitu polos, begitu anggun, begitu baik. Aku tidak akan rela seorangpun merusak hatinya. Biarkan dia tetap menjadi Mina yang lugu, paling tidak selama setahun ke depan, karena aku masih ada di sini, menjadi body-guardnya.” Jawabku panjang lebar tentang surat Andre yang berisi proposal untuk menjadikan Mina sebagai pacarnya.

Dan aku sangat mengenal Andre, dia tidak akan pernah ingin berdebat denganku. Maka surat beramplop biru itu kemudian menjadi serpihan-serpihan kecil ulah tangannya.

“Tolong buang bentar ya.” Ujar Andre meninggalkanku dalam keadaan gelisah. Khawatir telah membuat hati sahabat baikku itu kecewa. Tapi demi Mina, akan banyak lagi hati-hati lain yang terpaksa  aku kecewakan, kurasa.

Lain lagi dengan Antoni dengan sikap frontalnya langsung berteriak di depan semua pengungjung kantin suatu pagi saat jam istirhat pertama, “Eh, Mela, Mina buat aku ya. Kecuali Qe juga minat sama Mina. ” 

Sontak seisi kantin terbahak mendengar ucapan Antoni, dan aku buru-buru menarik tangan Mina menjauhi adegan nekat itu. Mina harus diselamatkan dari lelaki manapun. Dia sangat baik, aku tak ingin seorangpun merusak hatinya. Tidak selama aku masih ada disini.

Sore Rabu itu, seperti biasa aku mendapati Mina sedang menungguku menyelesaikan les persiapan UN di sekolah, sementara dia baru saja menyelesaikan latihan Pramuka yang telah lama menghilang dari daftar kegiatan anak-anak SMA dan kini hadir kembali semenjak kurikulum 2013 diberlakukan.

“Kita pulang bareng yok. Nanti kita singgah di warung Adun, Kakak sudah lama gak makan mie caluk*.” Ajakku ke Mina.

“Ahmad gak ikut pulang bareng kakak?” Tanya Mina.

“Dia tak akan pernah mau pulang denganku. Malu katanya, anak laki-laki harus berboncengan di belakang motor kakak perempuannya. Dia pasti sudah pulang dengan Bram.” Aku menjawab pertanyaan Mina panjang lebar dan sedikit merasa aneh karena ternyata Mina telah mengenal Ahmad. Mungkin karena mereka satu tim saat latihan pramuka, bisikku menentramkan suasana hati yang tak terima bahwa pada akhirnya Mina dan Ahmad sudah saling kenal.

Di warung Mie Caluk Adun, aku dan Mina mengobrol kesana kemari, tentang cita-citanya, tentang siswa-siswa yang mengganggunya, juga tentang ibunya yang akan segera menikah lagi karena ayahnya tak kunjung pulang. Ibunya sedang mengajukan fasakh* ke pengadilan agama, kata Mina, karena sudah 4 tahun keluarga Mina tidak mendengar kabar tentang ayahnya yang telah memilih untuk menikah lagi.

“Sebenarnya banyak kawan-kawan kak Mela yang suka sama Mina.” Aku mencoba mengalihkan percakapan. “Tapi kak Mela gak mau mereka mengganggu Mina. Kak Mela ingin hati Mina tetap bersih. Minakan berhijab, sudah seharusnya kita menjaga hijab kita dengan memberi contoh yang baik bagi lingkungan kita, seperti tidak pacaran misalnya, atau tidak menyontek saat ujian. Kita jaga hijab, hijab jaga kita. “ Tuturku panjang lebar.

Dan hingga 30 menit ke depan hanya suaraku saja yang terdengar. Mina tampak sedang tak ingin menimpali. Dia khusyu* mendengar ceramahku.

“Ayo kita pulang.” Akupun mengantarkannya sampai di depan gang rumahnya. Aku belum pernah bertemu ibunya. Belum saatnya bisik hatiku.

Malamnya aku mendapat sebaris SMS dari Mina, dia ingin bertemu denganku pagi-pagi sekali sebelum kelas dimulai.

“Kakak, Mina minta maaf.” Ujar gadis berjilbab putih di hadapanku.

“Kenapa Mina minta maaf. Mina mau pindah? Atau Mina belum bayar uang sekolah, perlu bantuan kakak ya?” Aku tak sabar dan langsung menebak-nebak apa kiranya yang membuat muka oval milik adik angkatku menjadi sangat cemas.

“Tidak, Kak. Mina salah sama kakak. Mina tidak amanah.” Ujarnya menambah rasa penasaranku.

“Memangnya kakak ada suruh apa sama Mina, Dek? Kenapa tiba-tiba ngomong gini.” Buruku lagi.
“Mina…” Lalu jeda.

“Kalau setelah ini kakak marah sama Mina, gak apa-apa. Mina terima. Tapi maafin Mina, Kak.” Dia tertunduk semakin dalam dan suaranya semakin samar.

“Mina udah mengkhianati kepercayaan kakak. Mina… pacaran, Kak.” Bisikannya kini terdengar seperti suara halilintar.

“Ya Allah, Mina. Tidak cukupkah ayahmu menjadi contoh bahwa banyak lelaki di dunia yang tidak dapat dipercaya. Mereka semua buaya. Jangan gampang percaya pada mereka. Mereka hanya ingin memanfaatkan Mina.” Teriakanku terdengar menggema di lorong sekolah di tempat kami sedang duduk sedari tadi.

“Siapa anak itu, kakak mau buat perhitungan.” Amukku lagi.

Dan jawaban Mina setelah itu telah berhasil membuatku terduduk lunglai. Aku kesulitan bernafas dan loteng-loteng putih di atas kepalaku seolah-olah berjatuhan menimpaku pagi itu.
Lelaki yang memacari Mina ternyata adalah Ahmadku

Poster Digital Sebagai Upaya Mendorong Semangat Ekspor Sejak Dini Pada Murid SMA Negeri 10 Fajar Harapan Unggul Garuda Transformasi

  Pendahuluan Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan yang fundamental secara intelektual dan emosional terhadap alam...