Wednesday 16 February 2022

JOGJAKARTA

Entah kenapa, Aku dan Jogja tak bisa akur. Meskipun aku sudah merinduinya sekian lama, tetap saja ketika mengunjunginya sekali dalam seumur hidupku, aku mendapati Jogja tak sayang aku.

Aku ke Jogja memang bukan untuk refreshing melainkan tugas dinas mendampingi siswa-siswiku mengikuti sebuah event besar yang diadakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Selama di Jogja ada saja hal-hal aneh yang terjadi, mulai dari dikejar-kejar seorang nenek sang penjual topi di kaki Prambanan karena aku memilih membeli topi dari penjual lain hingga makanan favorit yang kubeli ternyata membuatku ilfeel (ilang feeling). Masalah makan sebenarnya aku bukan pencinta kuliner  yang suka rewel dengan makanan tak enak. Tapi sekali lapar aku ingin makan sesuatu yang istimewa. Maka ketika lelah mengelilingi Prambanan, salah satu candi kebanggaan Indonesia itu, aku memilih sebuah kantin sayur pecal yang tampak ramai yang sangkaku pecalnya pasti enak. Sayangnya setelah memesan seporsi besar, aku baru sadar kalau sayur pecalnya hanya isi bayam pahit yang beda dengan bayam biasa di kotaku, dan olala bumbu kacangnya pun terasa aneh di mulutku.

Kali kedua, setelah seminggu lebih berada di Jogja, aku sangat rindu dengan martabak telur, maka kerak telurpun jadi pilihan saat mengujungi pameran di seputaran keraton malam itu. Aku membeli kerak telor sebanyak 30.000, karena ingin makan sepuasnya. Tapi ternyata rasanya sungguh di luar dugaan. Keraknya terasa hambar dan isinya hanya sayur kol tiada rasa. Ya ampun, menetes air mataku melihat kerak telor makanan favoritku harus berakhir di tempat sampah.

Selain makanan, sikap para pengemudi taksi yang sewenang-wenang juga membuatku menganggap Jogja tak menerimaku. Saat aku berkunjung ke sana, tidak ada taksi online yang bisa kupakai untuk berkeliling, hanya taksi biasa. Karena aku baru pertama kali ke Jogja dan belum menghafal rute bus, akhirnya taksi menjadi satu-satunya pilihan transport selama di Jogja.

Saking seringnya naik taksi, aku jadi hafal tarifnya. Namun ada satu kejanggalan yang dilakukan para pengemudi taksi ini. Ketika akhir pekan dan hari libur, harga taksi melejit tiga kali lipat dari hari biasa. Aku terheran-heran dengan kompaknya para pemilik taksi menaikkan tarif hari libur. Pun ketika aku meminta dikurangi ongkos seperti hari biasa, mereka kompak memarahiku, “jika tak mau naik, tak usah, ini hari libur, banyak orang yang perlu taksi.” Nah lho.. begitu jawabnya.

Jogja oh Jogja betapa kau tak sayang aku, batinku saat itu

Namun demikian, program kunjungan ke Jogjaku harus tetap berjalan. Semua planning yang sudah kususun rapi dari awal harus kuselesaikan. Salah satu dari program itu adalah membelikan hadiah cenderamata untuk orang-orang kesayangan saat aku pulang. Untuk satu orang yang spesial, aku berniat sekali untuk membawakannya sesuatu, apapun mungkin. Jadi ketika berada di pasar seputaran Borobudur, mataku tak henti-hentinya melirik ke sebuah kaos khas Jogja dengan gambar becak yang besar di bagian depan bawah T-shirt tersebut. Sepertinya ini bisa kujadikan cenderamata.

Tapi sepanjang jalan aku menimbang-nimbang, alangkah tidak eloknya memberikan hadiah 'pakaian' untuk seseorang yang kita tidak punya hubungan khusus dengannya meski kaos itu sudah masuk ke kantong dalam jinjinganku.

Esoknya, dibantu Ari, seorang kawan lama, aku berkeliling Jogja dengan mobil yang di sewanya. Kami muter-muter di mall dan masuk ke salah satu toko buku yang paling tersohor di Indonesia, Gramedia.

Tidak yakin dengan kaos bergambar becak, sambilan mencari-cari buku untuk anak-anak, plus juga buku titipan dari sohib terbaikku, aku juga berencana mencari sesuatu yang bisa kuhadiahkan untuknya mengganti hadiah yang konyol kemarin

Setelah berkeliling, tetiba mataku tertumbuk ke sebuah judul buku yang kira-kira dikhususkan untuk tes para capra, catar, catam, dan ca-ca lainnya yang aku lebih sering menyebutnya 'aparat'.

Ahh, aku benci menghadiahinya buku itu, itu membuatku seolah-olah telah ridha dengan pilihannya, padahal tidak, tidak sama sekali. Tapi rasa sayang perlu sedikit pengorbanan. Dan buku itupun kubawa menuju kasir, hingga kudengar Ari berkata, "Gak usah beli disini, mahal, nanti kita cari di Taman Pintar aja, mau buku apa saja ada, dan harganya terjangkau."

Hmm, boleh juga, jawabku dalam hati sembari meletakkan kembali buku itu di tumpukan buku-buku lain yang senyawa.

Walhasil  keluar dari Gramedia aku hanya membeli beberapa buku cerita anak-anak dan sebuah Al-Qur'an yang juga ingin kuhadiahi kepada seseorang.

Sepulang dari situ, akupun menyusun rencana untuk mengunjungi Taman Pintar, yang sudah pernah kukunjungi sekali saat ke Benteng Vredeburg. Kata Ari, "Biar kuantar Sabtu selepas ujianku, karena besok Jum'at." Aku tak menjawabnya.

Maka ketika besoknya, pasukanku berangkat menuju Bioskop XXI untuk menonton Star War dan Langit Terbelah di Eropa, akupun berangkat sendirian ke Taman Pintar. Nekatnya aku yang tak tau jalan dan arah, berjalan-jalan sendiri di kampung orang. Tapi aku tak punya banyak waktu, hari minggu aku harus pulang, dan besok aku sudah harus packing.

Setiba di Taman Pintar diantar taksi, aku mencari food-court karena sudah sangat kelaparan tak sempat sarapan. Usai menyantap empek-empek Palembang yang terasa sangat aneh di lidahku, aku langsung berkeliling, membuka list di Handphone-ku mencari satu persatu buku pesanana kawan-kawan terbaik everku.

Selain buku-buku antropologi dan filsafat dan beberapa buku 'gila' lainnya yang dipesan saudara-saudariku itu, aku juga membeli beberapa novel untuk koleksi plus novel untuk hadiah bagi yang pantas mendapat hadiah nantinya.

Kau ingin tau salah satu buku gila yang dipesankan kepadaku? - Perempuan di Titik Nol alias Firdaus - Karya Nawal el-Sadawi. itu adalah buku yang paling gila yang pernah kubaca, dan sangat tidak dianjurkan untuk makhluk berusia di bawah 25. Aku serius.

Nah, setelah semua buku itu terkumpul, aku tak jua menemukan buku yang ingin kuhadiahkan kepadanya, dia yang kuingat dimana-mana. Padahal di setiap toko yang kusinggahi aku menanyakan perihal buku tersebut. Mereka telah berusaha juga mencari-cari ke kios lain, namun nihil, hasilnya nol. Buku itu tak dijual disini.

Betapa menyesalnya aku, kenapa tak jadi membelinya di Gramedia kemarin. Ahh, rencanaku gagal, gagal total.

Tapi aku tak akan menyerah, masih ada beberapa kios yang belum kutanyai, dan akupun mulai bergerak lagi dengan dua kantong besar buku-buku titipan best friends dan novel-novel punyaku.

Setelah tanya sana sini, rasanya para penjual di lapak-lapak itu merasa aku sedang mencari sesuatu yang tak ada. Bagaimana cara mereka bisa mendapatkan buku yang memang tak pernah dicetak, hehehehe. Tapi aku tak peduli, sudah kepalang tanggung, aku belum tentu bisa kembali kemari dalam beberapa tahun lagi.

 Demi semangat itu, akupun menyusuri sebuah koridor lagi yang masih buka, sementara kios-kios lain ada beberapa yang sudah mulai tutup karena jadwal shalat Jum'at sudah tiba. Hmm, mirip dengan kondisi di kampungku yaa. Walaupun disini tak wajib tutup semua, tapi banyak juga yang tidak mau berjualan saat shalat Jum'at dilaksanakan.

Tiba di lapak pertama, di lorong itu yang dijaga oleh seorang perempuan, dia menjawab pertanyaanku dengan murung, mungkin kecapaian dari pagi sudah duduk disana.

Lapak ke dua dijaga oleh dua orang yang sepertinya kakak beradik : laik-laki dan perempuan. 'Ada buku ini ga?’ tanyaku menyebut sebuah judul. Dan senangnya aku, karena muka penjaga laki-laki itu seolah-olah merasa pernah mendengar tentang buku tersebut. Lalu dia mulai mengambil beberapa buku Tes Potensi Akademik dari rak atas, namun bukan itu yang kucari. Lalu aku menujuk kesebuah buku, "Ukurannya segini, bukunya untuk tes masuk Akademi Polisi, bukan Tes Polisinya", ujarku.

Dan pucuk dicinta ulampun tiba, dia menarik sebuah buku di tumpukan bawah, tereeeeeeng... 'Here you go.' teriakku dalam hati.

Berapa ini, serius, pada saat itu aku tak rencana minta kurang, lelahnya aku, berjalan setengah harian hanya untuk sebuah buku. Selain membayar, akupun berterima kasih kepada si penjaga lapak dengan mengeluarkan 15 butir permen (mungkin lebih) dari tasku untuk kuberikan kepadanya dan semua penjaga lapak di lorong itu.

 "Terima kasih yaaa," Hmm, bahagia sekali rasanya, semua yang ingin kubawa pulang sudah lengkap sekarang. Aku memasukkan buku itu ke dalam tas dan menarik dua kertas besar penuh buku tanpa menghiraukan tatapan-tatapan dari penghuni lorong yang melihat aneh ke arahku. Senewen mungkin, kok ada orang datang kemari pigi bagi-bagi permen siang-siang. Tapi biarlah, aku ingin pulang. Aku lelah.

Namun, rasa letihku ternyata tak tertebus hanya dengan buku itu berhasil kudapat, itu jam shalat Jum'at dan aku tak berhasil menyetop sebuah taksipun karena semuanya full dan ongkosnya sudah tak masuk akal.

Putus asa dengan taksi, akupun mencoba bertanya kepada penjaga halte, kira-kira kalau ke arahku, akau harus naik bus apa. Dia menjawabku dengan tersenyum. Betapa berharganya nilai sebuah senyum dari Jogja untukku saat itu. Setelah membayarnya, akupun meninggalkan beberapa butir permen di atas mejanya, dan dia tersenyum lagi.

Sepanjang jalan aku berfikir bagaimana caranya aku bisa pulang ya, sementara bus ini tidak sampai menjangkau wilayah tempat yang aku tinggali sementara di Jogja. Lalu, aku iseng mengirimi Ari sms, dan ia langsung merespon. "Turun saja di halte UGM, nanti saya jemput pakai motor,"

"Beres Boss." Dia memang kawan terbaik dan selalu bisa diandalkan.


SAAT AYAH TAK DI SISI

             Sepertu halnya anak-anak lain yang merasa hidupnya sangat lengkap ketika kedua orang tuanya bersama, anak-anak Rahmahpun demikian. Tapi takdir tak selalu berjalan sesuai keinginan. Ada saatnya orang tua  mereka hidup bersama, namun ada saatnya ayah harus pergi mencari rezeki di tempat yang sangat jauh dari jangkauan anak-anak.

Suatu malam dalam kehidupan rumah tangga Rahmah, saat itu mereka hidup nun di negeri seberang, suaminya berkata, visa turisku tinggal seminggu, aku harus keluar dari negara ini sebelum temponya habis.

“Apakah Kau akan pulang ke Indonesia atau hanya menyeberang ke Batam untuk beberapa hari?” tanya Rahmah.

“Aku malah punya ide bagus. Aku akan ke Thailand untuk bekerja di sana selama satu bulan. Jika nanti usahaku berjalan baik, aku akan kembali kemari satu minggu untuk memperpanjang permit turisku di Thailand dan melanjutkan kerjaku di sana. Karena di sini, kita tak punya peluang.” Ujar suaminya panjang lebar.

Serta merta emosi Rahmah naik, dia galau karena merasa akan ditinggalkan sendirian di Negeri Jiran.

“Tak usah rewel. Ini baru rencana.” Sambung suaminya diplomatis.

Setelah semuanya dimusyawarahkan dan dipersiapkan, maka Husen pergilah mencari rezeki ke perbatasan Malaysia-Thailand. Rahmah sangat kehilangan. Tapi ternyata anak-anak mereka yang paling merasa kehilangan. “Aku tak suka jika ayah tak disini. Biasanya setiap Sabtu kita selalu main ke park (lapangan).” Kata si Bungsu

“Kan bisa pergi dengan Ibu, Sayang.” Bujuk Rahmah.

Tapi Ibukan selalu sibuk dengan tugas. Biasanya kami malah main di depan ruang kuliah Ibu yang ramai itu. Main di dalam perpustakaan kan dilarang.” Jawab si Kecil lagi  dengan nada kecewa.

“Nanti saat ada waktu luang, Ibu janji ya, akan mengajakmu ke lapangan.” Rahmah menyorongkan jari kelingking ke arah bungsunya namun tak disambut. Tak disangkanya ternyata bungsunya sudah besar sekarang, sudah tak bisa disogok dengan rayuan.

Lain lagi kakaknya. “Kakakkan pingin main ke rumah kawan di apartement sana sekali-kali sambil berenang. Di apartement mereka kolamnya besar. Disini  malah gak ada kolam. Ibu kan belum pernah mau kesana, biasanya kan ayah yang antar.” Cerocos sulungnya.

Rahmah mengurut-urut dada, ini baru tiga hari, bagaimana kelanjutannya ya. Ia menenbak-nebak.

Setiap malam sebelum tidur mereka akan menelpon ayahnya sejenak untuk berkeluh kesah. Dan jawabannya selalu sama, “Sabar ya, sebentar lagi juga ayah pulang.”

Janji itu cukup untuk membuat mereka tertidur lagi malam itu.

Tetapi tidak dengan Rahmah, dia tak bisa tidur sampai tengah malam memikirkan bagaimana nasibnya di tempat rantau tanpa Husen di sisi.

Sepuluh hari berlalu, malam ini Husen menelpon anak-anak lebih lama dari biasanya.

“Sayang Ayah, Adek dan Kakak harus baik-baik ya di tempat orang. Kakak dan Adek harus jaga Ibu ya. Harus patuh dan nurut jika disuruh Ibu, jangan melawan. Dengar, mulai besok ada sesuatu yang sedikit berubah.” Lalu jeda.

            “Ayah sudah menemukan kerja yang cocok, tapi Ayah perlu modal tambahan. Jadi handphone ini harus Ayah jual sementara. Nanti kalau sudah ada rezeki Ayah beli lagi. Jadi anak-anak harus sabar kalau besok malam tidak bisa menelpon Ayah lagi seperti biasa.” Tutur Husen panjang lebar.

Anak-anak diam saja karena kecewa. Kemudian Husen mengirim beberapa foto tempat persinggahannya di Thailand sambil terus bercerita tentang tempat-tempat tersebut.“ Nanti kita pergi lagi kemari sama-sama ya. Tapi janji dulu doain Ayah dan bantuin Ibu disitu ya. Janji?” tanya Husen penuh semangat.

“Janjiiiii…” jawab anak-anak tak kalah semangat.

Seperti malam-malam yang lalu, anak-anak tidur pulas setelah mengobrol dengan ayahnya sementara Rahmah semakin merasa bersedih karena akan terputus komunikasi dengan suaminya mulai besok. Namun demikian suaminya telah berpesan, jika ada hal penting dia boleh mengirim pesan melalui email.

Hari berganti sejak hari itu dia tak pernah mendengar kabar dari suaminya, sementara anak-anak tak henti bertanya kapan ayah pulang. Jangankan untuk menjawab tentang itu, mengenai kabar Husen saja dirinya tak tahu.

Setelah bermalam-malam tidur anak-anaknya tak lagi pulas, Rahmah menceritakan sebuah nasehat yang didengarnya dari sebuah channel telegram. Channel Magnet Rezeki namanya.

“Ibu baru dengar cerita Pak Nas tadi.” Dia membuka cerita malam itu dan anak-anak sudah tau siapa yang dipanggil Pak Nas oleh ibunya. Beliau adalah founder Akademi Magnet Rezeki.

“Kata pak Nas kalau kita pingin sesuatu, gampang kok. Kita tinggal pikir-pikir aja tentang itu setiap hari. Tinggal sebut-sebut itu tiap saat.” Seandainya usia anak-anaknya sudah remaja tentu Rahmah akan mengumpamakannya dengan istilah, seperti orang yang sedang jatuh cinta.

Sayangnya anak-anak Rahmah masih berusia delapan dan sepuluh tahun, jadi  rasanya mereka tak akan paham maksudnya.

“Sekarang kakak dan adek pingin apa misalnya?” pancing Rahmah sengaja meskipun ia sudah tau akan jawabannya.

“Tentu pingin Ayah pulanglah, Bu.” Kata si Kakak.

“Secepat-cepatnya,” sambung si Adek.

Okay, kalau gitu sebelum tidur dan setelah bangun nanti, Kakak sama Adek harus bayangin kalau Ayah udah pulang ya. Bisa kira-kira?”

“Kakak bisa,” ujar Adiba.

“Adek bisa,” lanjut Fudhail.

“Sekarang tutup mata, baca doa, terus bayangin Ayah pulang dan bawa kita main-main lagi ke park.”

“Kata Pak Nas itu namanya Law of Projection atau LOP. Lanjut Rahmah. “Hukum proyeksi. Pikiran kita seperti laptop yang akan menayangkan apa-apa yang ada di dalamnya ke layar kehidupan.” Lanjut Rahmah berharap anak-anaknya faham. Ia lanjut bertutur meskipun kedua buah hatinya sudah memejamkan mata untuk membayangkan ayahnya segera pulang.

Esok pagi-pagi sebuah ide brillian muncul dari Adiba. “Bu, bolehkah Kakak membuat beberapa gambar Ayah?”

“Tentu saja boleh, Sayang. Kakak mau gambar apa?” Tanya Rahmah kepada sulungnya yang tampak sangat dewasa bahkan di usia sepuluh tahun.

“Pertama kakak mau gambar kita lagi makan pizza sama Ayah. Terus kakak mau gambar kami lagi main di park ditemani Ayah. Terakhir Kakak cuman mau buat gambar kami bertiga. Terus kakak tempel di pintu kamar.” Jelas sulungnya panjang lebar.

Setelah ketiga gambar itu jadi, mereka menempelkan gambar-gambar itu di pintu kamar Rahmah. Semenjak ayah mereka pergi mencari rezeki, anak-anak sudah membuat kamarnya menjadi basecamp.

Setelah satu persatu gambar direkatkan dengan selotip, Rahmah mengambil spidol dan menuliskan sesuatu di bawah gambar suami dan kedua anaknya: BESOK AYAH PULANG.

“Iya bu? Besok Ayah pulang?” tanya si bungsu

“Kan doa dek. LOP kita kalau besok Ayah pulang. Besok waktu kita lihat gambar ini lagi, kita bilang lagi, besok Ayah pulang, setiap hari seperti itu. Iyakan, Bu? Lama-lama LOP kita akan menjadi kenyataan.” Jawab Adiba cerdas.

“Kan semua yang kita pikir jadi doa, Sayang. Semua doa kita dikabulkan Allah baik cepat atau lambat. Makanya kita harus selalu pikir yang baik-baik, ngomong yang baik-baik.” Rahmah menambahkan.

“DISIPLIN KATA.” Jawab kedua anaknya kompak.

“Iya, kita harus melatih disiplin untuk terus berucap dan berpikir yang baik-baik.” Ucap Rahmah.

Itu materi lainnya dari teori magnet rezeki yang sudah mereka hafal.

“Nah, selain berpikir dan berkata baik, kita juga akan bersedekah setiap hari untuk mendoakan semoga Ayah mudah urusannya disana.” Rahmah menambah satu trick lagi.

“Adek maukan masukkan koin 50 sen setiap kali turun untuk shalat di surau?” Rahmah sangat bersyukur flat yang mereka tinggali, meskipun tak punya kolam renang dan fasilitas lainnya, tapi mempunyai sebuah surau di lantai dasar. Disitulah Fudhail akan menabung sedekah untuk mendoakan ayahnya. Selain hari Jum’at tentunya. Jika hari Jum’at, Fudhail akan memasukkan beberapa ringgit ke kotak amal mesjid kampus dimana Rahmah sedang belajar.

Jika waktu Jum’at tiba, Rahmah akan mengantar si bungsunya yang masih berumur delapan tahun untuk shalat Jum’at disana. Fudhail adalah anak pemberani. Saat dulu jum’atan dengan ayahnya dia sudah berjumpa beberapa orang kawan disana. Jadi tak perlu dirayu lagi, setiap Jum’at, Fudhail selalu siap untuk shalat di mesjid, meskipun saat ayah tak mememaninya.

Selain beberapa orang anak Melayu dan Arab yang sudah menjadi kawannya di mesjid itu, es krim dan jus yang dibagikan gratis di depan masjid setiap hari Jum’at juga menjadi daya tarik sendiri bagi bocah seumuran Fudhail. Semoga Allah memberkati pencetus ide dan para pembagi sedekah jus dan es krim Jum’at tersebut.

Sedekah, LOP dan Disiplin Kata sudah diterapkan oleh Rahmah dan kedua anaknya. Sekarang tinggal berdoa saja agar keajaiban datang. Meskipun rasa khawatir dan cemas sering kali hinggap di hati Rahmah mengingat sudah empat puluh hari suaminya belum juga kembali, dan itu artinya sudah tiga puluh hari mereka tak bisa berkomunikasi, namun Rahmah melawan semua rasa itu dengan berbaik sangka kepada Allah.

“Allah itu baik banget kan ya. Allah itu sayaaaang banget sama anak-anak baik dan shaleh. Jadi apapun yang mereka minta pasti Allah kasih.” Ucap Rahmah membesarkan hati kedua anaknya.

Jika dipikir-pikir lagi, semua kecemasan Rahmah bukan semata-mata karena suaminya telah pergi terlalu lama, atau karena masalah komunikasi, namun masalah izin turis yang dipegang suaminya di Thailand hanya berlaku tiga puluh hari. Bagaimana mungkin Husen masih berada di Negeri Gajah Putih itu selama ini. Apakah Husen harus berurusan dengan pegawai imigrasi atau dia sudah menyebrang ke negara lain seperti Laos, Myammar atau malah sudah balik ke Indonesia.

Rahmah mencoba mengirimi suaminya surel. Tapi sudah tiga surel sebelumnya tak ada balasan dari Husen. Lagi-lagi Rahmah menghalau pikiran buruknya dan buru-buru membelokkannya ke pada pikiran baik, positive thinking.

Dan jelang tiga puluh hari kedua dari pamitnya Husen, Rahmah mengajak anak-anaknya mengencangkan doa beserta menambah jumlah sedekah mereka.

“Kadang-kadang Adek takut juga bawa uang sen banyak-banyak, pas masukin kotak amal di surau kan lama, orang jadi merhatiiin.“ Cerita bungsunya.

“Ya Allah, kalau begitu besok Ibu kasih uang ringgit aja ya. Misalnya sekali pigi satu ringgit. Bisa gitu dek?” Rahmah mencoba berunding dengan pemuda kecilnya yang sangat setia.

“Bisa.” Jawab jagoannya, polos.”

Dan Allah selalu tepat janji. Siang itu di hari ke 55 suaminya pergi, pintu rumahnya diketuk. Tapi  tak ada suara salam terucap.

Ketiga anak beranak itu merasa degdegan kalau-kalau Sang Pahlawan sudah pulang.

“Coba Kakak buka pintu.” Pinta Rahmah.

“Adek aja,” kata si Bungsu.

Lalu terdengar teriakan nan merdu, “Ayaaaah…”

Adibapun berlari ke pintu tak percaya. “Ayaaaaah…” teriak si Sulung juga.

Rahmah berdiri sekejap di depan kaca, melihat kondisi wajah dan rambutnya, merapikan pakaiannya untuk menyambut tamu agung yang sangat dirinduinya.

“Alhamdulillah, sudah bisa pulang, Bang,” ujarnya sambil menciumi tangan suaminya.

Husen beranjak ke arah pintu kamar setelah menyenderkan dua tas bawaannya di sofa. Ia tertawa menunjuk ke arah gambar dengan tulisan Besok ayah pulang sambil berkata, “Kok tau?”

Rahmah mengedipkan mata ke arah kedua anak-anaknya sambil menjawab kompak, “taulaaahh…”

Alhamdulillah Allah Maha Baik. Allah sesuai prasangka hamba-Nya. Maka teruslah berprasangka baik kepada Sang Pemilik Semesta. (Noor)

Banda Aceh, 10 September 2021

Pada 11.30 pm

 

EMAK TRAVELLER

 

Dulu sebelum kuliah saya semangat sekali mengajak kawan-kawan untuk hunting beasiswa, kuliah lagi. Meskipun sudah tiga belas kali tak lolos seleksi akhir, saya masih terus berusaha untuk mendapat beasiswa S2 hingga suami geleng-geleng kepala sambil berkata,”tak pernah kulihat seorang perempuan sengotot kamu.” Hingga akhirnya takdir Allah membawa saya ke negeri jiran, Malaysia, tepatnya di Negeri Pulau Pinang.

Begitupun ketika sudah kuliah, saya juga masih setia ngomporin emak-emak untuk semangat kuliah. Hingga tiba-tiba, pada awal semester ketiga, anak-anak harus pulang ke Aceh karena si sulung akan segera mengikuti Ujian Akhir Nasional (UAN) tingkat sekolah dasar. Semuanya jadi berbalik 180 derajat. Semangat kuliah saya jadi luntur. Ingin rasanya berhenti, tapi saya terikat perjanjian harus menyelesaikan kuliah dengan Pemerintah Daerah. Jika tidak, semua beasiswa yang sudah saya gunakan selama di Malaysia harus dikembalikan.

Maka dalam kedhaifan itu, saya terpaksa melanjutkan kuliah. Di semester tiga ini masih ada satu mata kuliah lagi yang harus saya ikuti di setiap malam Selasa. Akhirnya saya memutuskan untuk Pulang-Pergi (PP) Penang - Banda Aceh dua minggu sekali. Setelah masuk kuliah dua kali, kemudian pulang seminggu ke Banda Aceh dan Senin pagi saya kembali terbang ke Penang. Begitu seterusnya karena ada si sulung dan si bungsu yang tak henti-henti mengingatkan, “coba kalau umi masih kecil terus ditinggal-tinggal sama Nenek. Apa gak sedih?”

Untuk menebus rasa bersalah sudah meninggalkan mereka, maka saya merutinkan pulang ke Banda Aceh dua minggu sekali. Tapi tentu saja tidak ada status berwara-wiri sedang berada di airport ini itu ditambah foto-foto selfie dengan latar Bandar Udara Pulau Pinang atau Bandar Udara KLIA atau Bandar Udara Kuala Namu ataupun Bandar Udara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh. Tidak ada. Sebab bisa pulang saja sudah syukur. Dan perjalanan-perjalanan tersebut benar-benar menguras tenaga.

Hingga semester tiga selesai, anak-anak yang baru selesai ujian, saya boyong ke Penang selama satu bulan. Mereka tinggal bersama saya di asrama untuk International Students yang seharusnya hanya muat untuk satu orang untuk menemani saya yang belum ujian. Tidak ada lagi apartement berkamar dua yang lengkap dengan dapur, ruang tamu dan kamar mandi. Semenjak suami dan anak-anak terpaksa pulang ke Aceh, apartement tersebut kami kembalikan kepada ownernya untuk menghemat biaya.

Meskipun bersempit-sempit di bilik kecil International House, tapi anak-anak merasa sangat bahagia karena kami bisa bersama-sama. Untuk membuat mereka tak cepat bosan, sesekali saya mengajak anak-anak berjalan-jalan ke Queens Bay Mall yang letaknya tak jauh dari Bandara Pulau Pinang.

Setelah selesai ujian, kemudian saya memesan tiket pulang, namun ternyata anak-anak sudah overstay satu hari. Kami sempat diinterogasi beberapa lama di airport dan passport yang digunakan anak-anak dibawa ke ruang kantor imigrasi bandara. Saya merasa sangat panik saat itu, namun berbekal ilmu Magnet Rezeki yang sudah saya pelajari, saya terus berprasangka baik kepada Allah, inna ma’al ‘usri yusra fainna inna ma’al ‘usri yusra. Sungguh di balik kesulitan itu ada kemudahan. Sampai dua kali Allah mengulangnya dalam surat yang sama. Oleh kerena itu saya masih dapat tersenyum di balik persoalan, karena saya yakin setelah sandiwara ini berakhir akan ada hadiah indah yang menanti.

Semester empat saya bisa berlapang dada sebab selama dua bulan masa penelitian, saya bisa tinggal di Banda Aceh. Meskipun demikian, saya tetap saja harus bolak balik Banda Aceh-Penang untuk bimbingan tesis.

Memang ibu dosen pembimbing membolehkan saya untuk mengerjakan tesis di Aceh, sayangnya hal itu tak pernah terjadi. Sebaris kalimatpun tak terealisasi. Saya sibuk bertamasya bersama anak-anak kesana kemari. Walhasil, tiket Btj- Pen dan Pen-Btj hampir penuh sekeranjang selama satu tahun. Ada lebih kurang dua puluh delapan lembar tiket dengan berbagai macam model penerbangan ; direct Pen- Btj atau transit KNO atau malah sempat menginap di musalla KLIA Airport. Tentunya tanpa selembar moment pun yang sempat saya abadikan karena saya sudah kelelahan berusaha agar bisa pulang.

Rangkaian perjalan ini menyadarkan saya bahwa menjadi ibu yang traveller sangatlah tidak mudah. Long Distance Relationship (LDR) tersebut menuntut semua ibu untuk merencanakan kapan harus berada di luar dan kapan harus berjumpa dengan anak-anaknya.

Dan perjalanan udara itu ternyata tidak selamanya menyenangkan. Jika saya mendapat pesawat Airbus maka resikonya harus duduk di kursi bertiga yang dua orang penumpang lainnya terkadang adalah lak-laki, kita seorang diri perempuan. Selain itu di ketinggian sekian ribu meter di atas permukaan laut, telinga orang-orang yang mepunyai riwayat sinus akan berdenging dengan lebay.

Lain lagi jika dapat pesawat kecil, keadaan bisa jadi sangat tidak nyaman dengan turbulence yang luar biasa. Berkali-kali saya merasa sport jantung karena pesawat bergoyang-goyang dengan kencang. Seringkali akhirnya saya memilih bergadang malam dan tidur di dalam pesawat agar tidak perlu merasa deg-degan selama dalam perjalanan.

Meskipun demikian, ada satu hal yang menjadi favorit saya saat terbang. Terkadang ada hal-hal yang sangat menyedihkan terjadi dalam hidup. Maka berdoa sambil menyentuh awan (melalui kaca pesawat) adalah pilihan favorit. Duduk seorang diri dengan air mata menderas sambil memohon-mohon kepada Allah agar diampuni dosa dan dimudahkan semua urusan. Terus menatap ke arah jendela sambil menutup muka agat tidak ketahuan sedang banjir air mata akan memberikan sensasi yang luar biasa saat posisi kita berada di langit. Kita akan merasa betapa Allah begitu dekat karena Arasy-Nya berada di langit. Kita merasa begitu kecil dibanding alam ciptaan-Nya. Kita merasa begitu kotor ketika bersandingkan awan nan putih bersih, merasa begitu kerdil ketika bersanding dengan samudera nan luas. Ya Rabb, ya Rabb.. Sungguh masalahku kecil bagi-Mu. Sungguh semua urusanku hanya taburan debu dibanding kuasa-Mu. Allah… Laa ilahailla anta, subhanaka inni kuntu minadl-dlaalimin.

Begitulah rapalan doa-doa itu berulang terus menerus hingga semester keempat selesai. Tak perlu menunggu lama, selesai sidang tesis, saya segera terbang lagi ke Aceh. Tepat pada September 2019, saya akan mengikuti wisuda Program Master Degree di Universiti Sains Malaysia (USM) Pulau Pinang. Saat itu tentu saya tak perlu lagi terbang ke Malaysia sendiri. Akan ada anak-anak dan suami yang datang sebagai tamu kehormatan pendamping wisudawati yang akan segera bergelar Master of Art.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Q.S Ar-Rahman).

Thursday 19 August 2021

KANTONG BELANJA ADIBA

Prolog

Teet, teet, suara klakson yang terdengar dari belakang mobil ayah berhasil mengalihkan perhatian Adiba yang sedang menatap sebuah papan iklan besar berhias foto bapak Wali Kota Banda Aceh yang berisi iklan tentang kebijakan berbelanja tanpa kantong plastik yang tertuang dalam peraturan Wali Kota No.111 tahun 2020 tentang pembatasan penggunaan kantong plastik sekali pakai di swalayan, supermarket, dan mall. Kata Ayah, kebijakan itu baru diluncurkan 5 juni 2021 lalu.

Iklan yang baru saja dilihatnya membuat Adiba melamun sepanjang jalan pulang. Ia mengingat kenangan dua tahun lalu saat dia baru saja menyelesaikan ujian terakhirnya di sekolah dasar.

***

Suatu sore yang hujan, saat Adiba dan kedua adiknya sedang menatap tetes-tetes hujan di luar jendela, mereka melihat ayahnya keluar dari mobil dan berlari ke arah rumah sambil melambaikan tangan ke arah mereka. “Ayah pulang, ayah pulang,” teriak Adiba dan kedua adiknya sambil berlari untuk berebut membukakan pintu untuk ayah.

“Kopi, Bang?” tanya ibu Adiba sambil mengambil mantel hujan dan tas kerja suaminya.

“Boleh.” Jawab ayah Adiba sambil berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah selesai membersihkan diri, ayah Adiba menuju sofa yang ada di ruang keluarga. “Ayah, Ayah, Ayah.” Ketiga bocah kecil menyerbu sang ayah.

“Haha, maaf ya, hari ini ayah terlambat pulang. Ada sesuatu yang harus ayah bereskan di kantor. Kalian pasti dari tadi menunggu ayah, kan?” Ayah bertanya dengan penuh rasa percaya diri sambil merangkul ketiga anaknya.

“Gak kok biasa aja.” Zacki membalas candaan ayahnya. 

“Iya tu, iya. abang bohong. Padahal dari tadi kami udah lama tunggu ayah pulang.” Ujar si bungsu Muluki polos.

“Ini kok pada ngepung ayah semua. Pindah dulu biar ayah bisa duduk di atas.” Ibu mengambil Muluki dari pelukan ayahnya.

Meskipun demikian Adiba dan Zacki tidak mau melepaskan genggaman mereka dari lengan ayah, “aduh sayang, duduk manis dulu ya, ayah punya kabar besar.” Ujar ayah Adiba agar kedua anak kesayangannya mau duduk manis di sampingnya.

“Kabar besar apa, bilang terus, bilang terus, kami jadi penasaran!” Adiba dan Zacki mendesak ayah.

Ayah Adiba tersenyum sambil mengeluarkan amplop yang rapi dari belakang badannya.

“Waaah apa itu, Ayah?” tanya si Muluki kecil sambil memegang boneka teddy bear-nya. ayah Adiba hanya tersenyum sambil melihat ke arah istrinya.

Ayah menyerahkan amplop di tangannya kepada ibu Adiba. “Ibu, Ibu, apa isinya?” Tanya Adiba tak sabar.

“Isinyaaaa,” jawaban ibu Adiba menggantung membuat anak-anaknya semakin penasaran.

“Ayah dapat hadiah jalan-jalan dinas ke Malaysia.”

“Ye ye, ye yey,  sontak ketiga anaknya melompat-lompat dan berputar ria mendengar berita tersebut.

“Tapi, ada tapinya. Jalan-jalannya ke Kantor Imigrasi di Pulau Pinang. Tempat ayah kerja praktek saat kuliah dulu.” Lanjut ayah Adiba.

“Abang ikut, adek ikut,” kata kedua adik Adiba sambil memeluk bahu ayahnya.

“Oke, nanti kita bahas lagi ya. Sudah magrib, yuk kita shalat dulu.” Ayah menyudahi suara gaduh yang ditimbulkan anak-anak seiring suara azan yang terdengar dari Menasah (surau).

Ketiga anak Pak Hasan bergegas ke kamar mandi dan mempersiapkan keperluan shalat mereka.

Setelah makan malam usai, acara santai keluarga Pak Hasan masih membahas perihal keberangkatan ayahnya ke Malaysia. Malam itu Adiba dan kedua adiknya bermimpi menaiki pesawat ke Pulau Pinang, Malaysia. Adiba sangat bersemangat. Ia benar-benar berharap bisa pergi ke Malaysia bersama ayahnya, sementara Zacki tidak tidur lelap karena terus-menerus bermimpi soal Malaysia.

Sementara ayah dan ibu Adiba juga tidak bisa tidur karena ternyata tiket yang disediakan hanya dua. Ayah dan ibu Adiba bingung memutuskan siapa yang harus pergi. Akhirnya mereka berdua setuju untuk membawa Adiba sebagai hadiah Adiba karena Adiba baru saja menyelesaikan Ujian Nasional tingkat sekolah dasar dengan baik.  Ibu Adiba tidak mungkin pergi dan meninggalkan Zacki dan Muluki yang masih kecil.

Akhirnya keputusan sudah bulat, ayah akan pergi bersama Adiba. Malam yang terasa panjang itu akhirnya berakhir. Saat sarapan pagi ayah Adiba berkata, “Ayah ada kabar baik dan kabar buruk” dengan ekspresi wajah yang datar.

 “Kabar apa, Ayah?” Adiba bertanya dengan suara halus kepada ayahnya

“Ternyata kantor ayah hanya menyediakan dua tiket. Jadi kita tidak bisa berangkat semua. Ayah dan ibu memutuskan bahwa Adiba yang akan ikut bersama ayah. Insya Allah di lain waktu kita akan berangkat sama-sama ya.” Ujar ayah panjang lebar.

Kedua adik Adiba sangat bersedih, tapi mereka juga tidak mau ikut jika ibu tidak ikut Bersama mereka ke Pulau Pinang.

Akhirnya, hari yang ditunguu-tunggupun datang. Seluruh keluarga mengantar ayah dan Adiba ke bandara. Adiba sangat bahagia karena ini adalah penerbangan pertama Adiba, tapi juga sekaligus sedih karena harus berpisah dengan adik-adiknya meskipun hanya untuk tiga hari.

Setibanya di bandara penang, Adiba merasa sangat bersemangat. Adiba melihat kesana kemari sambil merapikan masker karena kata ayah, saat berada di pesawat dan di bandara, Adiba harus selalu menggunakan masker untuk mencegah virus yang berpindah dengan cepat. Adiba dan ayahnya mengantri di imigrasi untuk pengecekan paspor. Mata Adiba disenter sekejap dan diizinkan untuk lewat.

Adiba keluar dari Bandar Udara Pulau Pinang dan mengikuti ayahnya membeli kartu internet setempat agar mudah untuk berkomunikasi saat berada di Malaysia. Kemudian ayah mengajak Adiba untuk makan siang di sudut sebuah café bandara. Mereka tak berlama-lama di café, hanya sebentar sampai taksi online yang dipesan ayah tibaa. Adib adan ayah bergegas memasukkan barang ke dalam taksi online yang akan mengantar mereka ke hotel yang sudah dipesan ayah saat masih di Aceh.

Esok Adiba akan ikut ayah ke Kantor Imagrasi Pulau Pinang, oleh karena itu hari ini Adiba harus beristirahat meskipun hatinya sangat penasaran ingin segera berkeliling salah satu dari sembilan negeri di negara Malaysia ini.

Keesokan harinya setelah mengikuti pertemuan di Kantor Imagrasi Pulau Pinang, Adiba dan ayah berjalan-jalan sebentar ke salah satu swalayan yang sangat terkenal di seluruh Malaysia, Tesco namanya. Saat memasuki pusat perbelanjaan tersebut, tiba-tiba ayah ingat sesuatu, “kantong belanjanya dimana, Kak? Ada Kakak bawa?”

“Oh, sebentar Yah. Rasanya masih di dalam ranselku, belum kukeluarkan dari saat pertama ibu menaruhnya disana.” Ujar Adiba sambil memeriksa ranselnya.

“Untuk apa kantong ini, Ayah?” tanya Adiba sambil menunjukkan kantong yang baru saja ia keluarkan dari ranselnya.

“Untuk membawa barang-barang kita nanti setelah berbelanja. Di sini semua orang membawa kantong sendiri-sendiri saat berbelanja, untuk mengurangi sampah plastik. Pemerintah Malaysia mewajibkan setiap orang yang berbelanja untuk membayar setiap kantong plastik yang mereka pakai untuk membawa belanjaan mereka. Oleh karena itu, setiap kali berbelanja, masyarakat lebih memillih untuk membawa reusable shopping bag-nya masing-masing.”

Penjelasan ayah yang panjang lebar membuat Adiba terheran-heran. Ada rasa menyesal dalam hatinya mengingat Adiba sempat menolak memasukkan kantong tersebut ke ranselnya sesuai perintah ibu.

“Nanti, bolehkah kita juga berbelanja menggunakan kantong belanja seperti ini terus, Ayah? Maksudku nanti ketika kita pulang ke Aceh. Bolehkah?” Tanya Adiba mencoba menghilangkan rasa bersalahnya.

“Tentu saja, Sayang.” Jawab ayah senang.

“Adiba pernah lihatkan, tas anyam yang dibawa nenek kemana-mana? Kadang-kadang nenek mambawanya ke pasar, kadang-kadang ke sawah. Ingat?” Tanya ayah

“Tas rotan nenek ya, Yah?” Tanya Adiba kurang yakin.

Ayah tersenyum mengiyakan. “Tas itu terbuat dari anyaman on ngom (pandan segi), bukan dari rotan. Di kampung kita tas tersebut disebut dengan nama eumpang pá½²t, artinya karung yang dikepit (dengan ketiak). Begitulah indatu (para leluhur) kita menjaga alam dengan menggunakan barang-barang dari alam yang mereka buat sendiri.” Jelas ayah panjang lebar kepada Adiba yang sudah duduk manis di seberang meja ayah menunggu nasi kerabu mereka di hidangkan oleh para pelayan Tesco Café.

Adiba terkagum-kagum mendengar penjelasan ayah. Ternyata penjelasan ayah masih berlanjut. Ternyata kantong yang dibawa Adiba adalah hadiah dari Paman Ugahara, kawan ayahnya yang sedang berkuliah magister di Inggris.

“Di Inggris, orang menyebut kantong belanja pakai ulang ini sebagai bag for life, artinya kantong kehidupan.” Lanjut ayah lagi.

“Kenapa bisa seperti itu, Yah?” Tanya Adiba kagum.

“Ayah juga tidak tau pasti alasannya, tapi ayah rasa karena dengan menggunakan kantong tersebut, orang-orang di Inggris sana sudah menyelamatkan bumi dengan cara mengurangi sampah plastik, dengan demikian mereka menyebutnya dengan tas untuk (menyelamatkan) kehidupan.” Ujar ayah lagi seperti seorang profesor.

Waah.. Mata Adiba menatap ayah sumringah. Dia bahagia sekali mendengar istilah tersebut, sangat dahsyat. Padahal cuma kantong belanja aja. Kok bisa memberi dampak sebesar itu ya? Batin Adiba.

“Udah, jangan melamun,” ayah memberi isyarat kepada Adiba untuk menggeser gelas minumannya ke samping agar kakak pelayan bisa meletakkan nasi berwarna biru khas Negeri Kelantan di depan Adiba.

“Nanti di Aceh kita pakai bag for life juga ya, Yah.” Pinta Adiba sungguh -sungguh. “Aku juga ingin menjadi seorang pahlawan penyelamat bumi dengan mengurangi penggunaan sampah plastik.”

Ayah mengangguk-angguk menyelesaikan kunyahan di mulutnya, “Kabar baiknya, Sayang., pemerintah Indonesia juga sudah mengeluarkan peraturan tentang larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai. Sudah lumayan lama juga. Tahun 2016 kalau ayah tidak salah. Namun peraturan itu belum sepenuhnya berjalan. Lanjut ayah membantu menuntaskan rasa penasaran Adiba.

“Aku gak mau lagi pakai kantong plastik. Aku mau pakai kantong pakai ulang aja,” ujar adiba penuh semangat.

Adiba dan ayah menyelesaikan santapan nasi kerabu dan segera memasuki Tesco untuk berbelanja keperluan mereka selama tiga hari di Pulau Pinang.

Di dalam hati Adiba, ia bersyukur bahwa perjalanan pertamanya ke luar negeri ternyata bukan hanya untuk jalan-jalan semata, namun juga untuk belajar tentang bahaya sampah plastik sehingga membuat Adiba tersadar bahwa sebagai generasi penerus sudah seharusnya mulai sekarang Adiba belajar untuk menjaga bumi, demi kelangsungan hidup seluruh makhluk dan anak cucu manusia.

                                                                                         Banda Aceh, 27 Juli 2021

                                                                                         Nura Avadatis Sulha Hassan

                                                                                         Kelas IX Putri

SEKOLAH DASAR KHIYAR

Seperti juga kakaknya, Sulha, yang mempunyai empat sekolah dasar, begitupun dengan adiknya Khiyar.

Khiyar awalnya mendaftar di sebuah Madrasah Ibtadaiyah tepat di belakang rumah toko milik ayahnya. Sudah delapan tahun keluarganya tinggal disana, di tengah sebuah pasar tradisional yang bising. Mau tak mau, Khiyar didaftarkan ke sekolah tersebut karena kakaknya juga bersekolah disana.

Tapi keberuntungan belum memihak kepada Khiyar saat itu. Ia tidak lulus di Madrasah Ibtidaiyah tersebut. Kata Bu Guru ketika ditanya ibu tentang nasibnya, khiyar kurang beruntung karena kartu keluarganya tidak terdaftar di kecamatan tersebut. Kata bu guru lagi, tahun ini banyak sekali peserta yang mendaftar sehingga yang tidak ada kartu keluarga dari daerah tersebut tidak bisa diloloskan.

Lalu, ibu mencari sekolah lain yang terdekat dari rumah agar tidak jauh sekali mengantarnya. Ibu menemukan sebuah sekolah dasar yang sangat biasa dan tak banyak muridnya. Di situlah Khiyar memulai kehidupan sekolah dasarnya.

Jumlah kawan sekelas Khiyar hanya sembilan orang, tapi teman dekatnya hanya satu orang di kelas tersebut, Busra kecil. Kawan lainnya semua abang kelas IV dan V. Abang-abang tersebut adalah kawan yang sangat seru. Setiap pulang sekolah mereka mengajak Khiyar memetik delima ataupun menangkap ikan di saluran irigasi di dekat sekolah sampai ibu tiba menjemput.

Sayangnya keseruan itu tidak berlangsung lama. Ibu dan Ayah memutuskan untuk pindah ke tempat lain karena kehidupan di tengah pasar tradisional sudah kurang cocok untuk Khiyar dan kakaknya.

Rumah toko mereka disewakan dan mereka pindah ke sebuah kampung yang dekat dengan sekolah tempat ibunya mengajar. Khiyar dan kakaknya akhirnya bersekolah di sebuah sekolah dasar, lagi-lagi yang paling dekat dengan rumah mereka.

Kata ibu ketika kakak bertanya kenapa kami selalu bersekolah di sekolah biasa agar kami bisa cepat pulang. Anak-anak tidak seharusnya belajar sampai sore. Nanti tak ada lagi waktu mereka bermain. Jika anak-anak tak puas bermain saat kecil, dia akan terus bermain-main hingga dewasa. Kata ibu lagi, jika anak-anak cepat pulang, kita bisa makan siang bersama.

Benar saja, bahkan ketika Khiyar naik kelas II dan kakaknya naik kelas IV, kakaknya malah mengajak kawan-kawannya makan siang bersama di rumah. Pasalnya setiap hari Rabu dan Kamis, si kakak dan kawan-kawannya masuk lagi setelah dhuhur untuk belajar Diniyah.

Tidak ada pengalaman yang luar biasa di sekolah dasar yang sekarang. Semuanya biasa saja. Setelah dua tahun bersekolah di sana, tiba-tiba ibu mendapat panggilan untuk melanjutkan pendidikan ke negeri jiran, Malaysia. Khiyar dan kakaknya sangat senang membayangkan akan ikut ke Malysia bersama-sama. Tapi sayang sekali ternyata ibu harus pergi sendiri dulu karena belum ada rumah untuk mereka tinggali di sana. Khiyar dan kakak sangat sedih. Ternyata mereka harus pindah lagi sekolah, kali ini ke kampung nenek mereka. Bersekolah di sekolah kecil tempat nenek mereka mengajar.

Kehidupan sekolah dasar Khiyar berlanjut di sekolah ketiganya. Khiyar beradaptasi dengan kawan-kawan baru lagi. Setelah pulang sekolah beberapa kawan mengajak Khiyar mengaji, memancing dan bermain di dapur batu bata. Jika tidak bermain bersama mereka, Khiyar pasti sudah bersepeda ke kampung-kampung lainnya yang dekat dari kampung neneknya.

Ternyata hanya dua bulan saja pengalaman seru bermain dengan kawan-kawan di kampung. Setelah dua bulan itu, ibu dan ayah menjemput Khiyar dan kakaknya Sulha untuk ikut ke Malaysia. Alangkah bahagia hati mereka berdua, akhirnya mereka bisa bersama-sama lagi dengan ibu dan ayah.

Tapi masalah barupun datang, anak-anak pendatang tidak bisa bersekolah di sekolah Negeri. Kebijakan itu baru saja keluar dalam dua tahun belakang. Ayah dan ibu Khiyar beberapa kali berkunjung ke Dinas Pendidikan Pulau Pinang untuk mengurus agar anak-anak agar bisa belajar di Sekolah Kebangsaan Malaysia bersama anak Melayu lainnya. Paling tidak bahasa yang digunakan tak jauh beda, pun budaya Melayu dan Aceh masih banyak yang sama. Tapi usaha tersebut tetap tidak mendapatkan hasil.

Akhirnya ayah dan ibu memutuskan untuk mengirim Khiyar dan kakaknya ke sekolah internasional : ada sekolah khusus India, sekolah khusus China, dan sekolah khusus untuk anak-anak Timur Tengah. Tentu saja ayah memilih sekolah yang semua siswanya muslim ; sekolah bersama anak-anak Arab.

Sungguh tak mudah bagi Khiyar untuk memahami materi Matematika, Ilmu Alam dan pelajaran lain diajarkan dalam Bahasa Arab. Tapi mereka cepat menyesuaikan diri, karena siswa-siswi di sekolah Arabic School tersebut kebanyakannya tinggal di apartement yang sama dengan tempat Khiyar tinggal.

Setelah setahun bersekolah di Arabic School, Khiyar dan kakak harus kembali pulang ke kampung nenek karena kakaknya akan mengikuti Ujian Nasional (UN). Khiyarpun menghabiskan satu semester lagi di sekolah tersebut.

Setelah ibu wisuda dan menyelesaikan semua urusan kuliahnya, Khiyar, Sulha, beserta ayah dan ibu kembali tinggal di daerah yang dekat dengan sekolah ibu. Kata ibu agar memudahkan jika anak-anak perlu sesuatu. Sementara Kak Sulha melanjutkan ke sebuah Sekolah Menengah Pertama Islam Karakter di seputaran wilayah tersebut juga. Tidak begitu jaun dari rumah yang mereka diami.

Meskipun kelas V dan VI, Khiyar pindah lagi ke sekolah yang baru, tapi alangkah senangnya Khiyar karena ternyata ibu memilih memindahkannya kembali sekolah dasar ke duanya dulu sehingga Khiyar tidak perlu beradaptasi lagi dengan kawan-kawan, karena kawan-kawannya adalah kawan lama Khiyar.

Demikianlah perjalanan sekolah dasar Khiyar yang berpindah-pindah membuat Khiyar harus belajar berinteraksi dengan banayk lingkungan. Meskipun untungnya banyak, tapi ibu tetap berdoa, semoga nanti Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Akhirnya Khiyar cukup satu saja. “Semoga,” kata Ibu.

                                                                                                     Oleh  : Mujaddid Lil Khiyar

                                                                                                     Kelas : VII Putra

Friday 9 July 2021

WONDER WOMAN

“Noooor… Zi di Banda ni.” Suara teriakan Azianti sahabatku terdengar nyaring di ujung telpon selular yang baru saja berdering.

Setiap kali pesan seperti itu kudengar, maka kemungkinan besar hari itu atau besoknya aku akan berganti peran dari seorang guru menjadi tukang ojek keliling yang siap membawa sahabatku ini keliling Banda Aceh.

Maka setelah tak lama basa-basi kami segera membuat sebuah keputusan.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali aku sudah berada di depan rumah kontrakan kakaknya Zi di seputaran Kuta Alam. Berhubung hari ini hari dinas, maka hari ini aku akan membawanya ke sebuah tempat istimewa, ke sebuah lapangan serbaguna di tengah kota Banda Aceh yang biasanya digunakan oleh orang-orang untuk berolah raga. Tebak kami mau ngapain di lapangan milik para tentara itu? Mau jogging? Oh no, no! Kebetulan hari ini aku bertugas mengawal siswa-siswiku yang sedang mengadakan lomba program ekstrakurikuler semesteran. Karena aku sedang piket, Zianti sahabatku juga ikut berpiket bersamaku untuk mengontrol para bocah SMA ini berolahraga.

Setelah jadwal ekskul siswa selesai, saatnya kami keliling Banda Aceh. Sekedar melihat-lihat atau throw back tempat-tempat yang pernah kami lewati dulu saat masih gadis ataupun nongkrong di tempat kuliner yang menyajikan makanan khas aceh.

Hari itu kami sengaja melewati daerah Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) untuk mengenang sesuatu. Dulu aku sering menunggunya pulang di terminal depan RSUZA saat pulang kuliah untuk kemudian pulang ke kosannya di belakang Masjid Al Makmur, Lamprik, Banda Aceh.

Seperti itulah tahun-tahun berlalu, hingga suatu saat aku ingin mengingat-ingat lagi, kapan dan bagaimana ya dulu kami bertemu. Bagaimana jalan takdir ini menjadikan kami teman baik meskipun dia bukan teman SD atau SMP atau SMA ataupun teman kuliahku. Zi juga bukan teman sekampungku yang seharusnya menjadi asbab kami menjadi dekat. Tak perlu alasan dan sebab akibat ketika Allah memutuskan jalan takdir untuk kami  menjadi sepasang sahabat.

Siang itu adalah jadwal kelas speaking tambahan yang suka rela kuambil demi membantu meningkatkan kemampuanku untuk bisa bercasciscus menggunakan bahasa asing yang merupakan jurusan kuliah yang sedang kuambil. Adalah Zi seorang pendatang baru hari itu bergabung di kelas speaking tersebut, padahal ia bukan mahasiswi IAIN Ar-Raniry. Zi adalah seorang Mahasiswi tingkat satu di sebuah SPK (Sekolah Perawat Kesehatan) di Banda Aceh yang ingin meningkatkan kemapuan Bahasa Inggrisnya. Segera saja hari itu, Zi langsung menjadi akrab denganku. Pasalnya penghuni kelas tersebut kebanyakannya adalah laki-laki. Jikapun bukan laki-laki, tak ada anak perempuan yang seumur denganku. Jadilah Azianti atau Zia alias Zian yang lebih suka kupanggil Zi itu langsung membuatku nyaman. Dan hari-hari selanjutnya dia sering mengajakku singgah ke kosannya atau sekadar jalan-jalan bareng setelah keluar dari kelas speaking tersebut. Selain karena pembawaannya yang asik, Zi juga pinter merajut. Di sela-sela istirahat, atau saat menunggu mentor kami hadir, Zi merajut ujung jilbab hijau mint yang dibawanya. Wah, aku yang benar-benar tak faham tentang skill tersebut tentu saja terpukau mengetahui bahwa Zi adalah perempuan sejati; pinter masak, bisa jahit dan merajut. Pinter merawat luka dan hati juga, eaaa. Kan anak SPK.

Begitulah kisah itu dimulai, kurasa… Hingga akhirnya Zi menjadi sahabatku, until now, meskipun kami sudah di penghujung kepala tiga. Sudah beranak pinak. Ups ..

Meskipun setelah selesai kuliah, Zi kembali ke kampungnya dan menikah, namun cerita kami terus berlanjut. Ketika kembar pertamanya lahir, Zi memintaku memilihkan nama. Aku yang baru saja menikah saat itu, mengiriminya beberapa pilihan nama anak kembar dan Ia memilih sepasang nama yang indah. Rajulus Syakir (Laki-laki yang bersyukur) dan Niswah Syakira (Perempuan yang bersyukur) resmi menjadi nama anak pertamanya. Bahagianya aku dan merasa sangat terhormat telah diizinkan ikut dalam memilih nama untuk anak-anak Zi.

Cerita selanjutnya adalah kisah-kisah yang berulang, Zi ke Banda Aceh, aku menjemputnya mutar-mutar Banda Aceh. Pernah sekali aku yang mengunjungi kotanya, tepatnya melewati kota tempat Zi tinggal. Zi menyamperiku dan suami di tempat kami menginap. Tapi aku tak bisa mengobrol lama, badan penat tak mau diajak bekerjasama setelah dua hari kami ngetrip keliling Aceh. Malam itu kami menginap di rumah kakeknya Runni, sahabat SMA-ku untuk besoknya melanjutkan perjalanan balik ke Banda Aceh. Tapi Zi selalu sama, dengan hati besarnya Ia selalu faham dan memaklumi segala situasi.

Beberapa belas tahun setelah itu, aku mendapat kesempatan untuk melanjutkan kuliah ke jenjang master di negeri Jiran, Malaysia. Dan Zi adalah satu-satunya yang pernah menginap di flat kontrakanku disana. Jika diingat-ingat, Zi adalah satu-satunya orang yang pernah mengunjungi semua rumah yang pernah kutinggali termasuk rumahku di Negeri Seberang. Hebat sekali dikau, Sobat.

Meskipun kami jarang berjumpa, namun ada beberapa fakta yang membuatku tercengang tentang Zi...   Ia perempuan yang baik, kuat, dan luwes ketika bergaul. Saat masih gadis, ibu kosnya sangat menyayanginya. Setelah menikah, Ia istri yang sangat sabar dan pengertian. Ia juga sangat bijak dan dewasa dalam menyikapi masalah. Tak heran jika aku selalu memilihnya menjadi penyimpan rahasia terbaikku. Kami berdua saling berbagi kisah agar bisa saling menguatkan. Aku sering bertanya dalam hati, sebenarnya kamu siapa ya, Zi? Allah sangat bermurah hati mengirimkan engkau kepadaku. Bahkan untuk urusan hutang berutangpun engkau juga menjadi salah satu estimasi awalku untuk bertanya, setelah mamak dan beberapa sahabat dekatku. Dan seperti biasa kau tak pernah menolak untuk meminjamiku berapapun yang kubutuhkan.

Suatu saat Zi pernah membuatku tercengang dengan pengakuan bahwa infaqnya sekarang semakin meningkat drastis, dia menyanggupi untuk membayar uang listrik dan air di masjid kampungnya. Dia semakin keren saja di mataku.

Pun ketika baru-baru ini dia berkeinginan mengajakku untuk menghadiri pernikahan kedua suaminya jika nanti suaminya benar-benar berniat menikah lagi. Ya Allah Zi… baru kali ini kujumpai wanita berhati lapang selapang hatimu.

Kata kawan-kawanku kan, Zi, jika kita izinkan suami menikah lagi itu tandanya kita sudah bosan. Tentu saja kau tak termasuk dalam salah seorang yang mereka maksud. Karena setiap kali mengunjungiku, Aku salalu mendengar kau menelpon dan mengobrol asik dengan suamimu. Selalu…

Fakta lainnya yang sangat kusuka darimu, entah mengapa aku tak pernah merasa direpotkan olehmu, meskipun setiap ke Banda Aceh kau selalu ingin kita berjumpa. Mungkin kau rindu, tapi sungguh rinduku lebih besar dari milikmu. Hingga suatu saat kau mengaku,  “ Zi mau sekolahkan si Abang Syakir di Banda Aceh, biar Zi bisa sering ke Banda, bisa sering-sering jumpa Noor.”

Bahagianya aku, Zi.. Bahagia sebahagia-bahagianya, mengingat bahwa nanti, kita akan semakin sering berjumpa.

Dan saat kau berada di kotaku, kau tak perlu lagi memberitahu. Ada semacam feeling yang selalu hadir, yang selalu memaksaku mengambil handphone untuk menelpon atau sekadar mengirimmu pesan, “Apa kabar, Zi?”

Dan jawabannya selalu sama, “Zi lagi di Banda Aceh ni.” Hihihi... Sudah kutebak!

Sekarang, setahun sudah sulungmu Syakir bersekolah di sebuah pesantren yang sangat bagus di Banda Aceh. Dalam setahun ini sudah lebih dari tiga kali kita berjumpa, saling berbagi kisah, saling menguatkan. Aku selalu menunggu dan merindukan saat-saat kau hadir lagi di kotaku.

Meskipun tahun pertama Syakir telah usai, namun masih ada dua tahun lagi Syakir menempuh pendidikan disini ya kan Zi? begitulah harapku dan tentu saja harapmu juga…

Tapi ternyata Allah berencana lain…

Pagi itu, dua minggu lalu, saat minggu pertama libur naik kelas baru saja dimulai, kau menelpon, bercerita bahwa Syakir sedang kurang sehat. Katamu kau hanya perlu didengarkan. Sambil menggoreng mie hun untuk brunch, sarapan pagi yang kesiangan, aku mendengar ceritamu dan menjawab beberapa pertanyaan yang kau ajukan.

Setelah sepuluh hari dari hari kau menelpon, aku teringat-ingat sekali kepadamu. Terbersit dalam hati, apa kau sedang di Banda Aceh, membawa Syakir check up? Lalu lepas magrib, aku mengambil smartphone di tangan gadis sulungku dan mengirimu pesan, “Assalamualaikum, Zi. Apa kabar? Si Abang sudah sehatkan? tanyaku.

Selang beberapa saat kau menelponku via WhatsApp, tapi tak kuangkat. Aku berlari mengambil HP biasa karena aku ingin menelpon lebih lama dan lebih terang dengan Handphone biasa, tanpa jeda seperti saat menelpon dengan WhatsApp.

Namun belum sempat kupencet nomormu, kau menelpon lagi, “Assalamualaikum, Noor.”

Alaikumsalam, kutelpon dengan HP biasa ya? Biar terang.” Pintaku.

“Tak usah, Noor. Zi hanya sebentar. Zi cuman mau ngabari, Syakir udah meninggal tadi pagi… Mohon doa ya Noor.” Ujarnya di seberang sana.

Aku tercekat mendengar kenyataan dan mendengar suaranya yang tenang, tak bergetar sedikitpun, tanpa nada emosi sedikitpun.

Ya Allah, Zi….

Aku terdiam tak bisa menjawab apa-apa sampai engkau berkata sebelum menutup telpon, nanti Zi cerita ya.”

“Bunda Zia kenapa Mi?” tanya sulungku melihat rautku yang berubah pucat.

“Anaknya udah pulang ke Allah, Sayang..”

“Ya Allah, jadi suaranya kok seperti ngomong biasa.. Bunda Zi gak sedih, Mi?

Ya Rabb.. Bagaimana Umi harus menjawab pertanyaanmu, Nak..

Umi enggak tau, Sayang, hati bunda Zi terbuat dari apa. Bunda Zi memang perempuan tegar. Bisikku lebih kepada diriku.

Aku benar-benar tak tau Zi, dari apa Allah menciptakan hatimu. Tapi satu yang pasti, untuk orang-orang yang spesial sepertimu, Allah punya rencana khusus, punya rencana istimewa yang tak seoranpun tau apa. Apapun yang telah dan akan kau jalani, tetaplah menjadi Zi yang kukenal. Zi, Sang Wonder Woman. Allah yubaarik fiik.

                                                                                                 Banda Aceh, 9 Juli 2021                                                                                                                                 Jum'at Malam yang hujan,

                                                                                                    -10:16 PM-

 

 

 

 

 

 

JOGJAKARTA

Entah kenapa, Aku dan Jogja tak bisa akur. Meskipun aku sudah merinduinya sekian lama, tetap saja ketika mengunjunginya sekali dalam seumur ...